Analisis Bisnis Model dan Kelayakan Investasi Bangunan Menara Telekomunikasi (Studi Kasus Di Kota Magelang)
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Bisnis telekomunikasi di Indonesia menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan, potensi besar bisnis telekomunikasi di Indonesia, didukung oleh penetrasi internet mencapai 89% pada 2023, menciptakan peluang signifikan bagi penyedia menara, termasuk di Kota Magelang. Keterbatasan dan tingginya biaya sewa lahan untuk menara greenfields mendorong prioritas pada pembangunan menara pole. Penelitian ini bertujuan menganalisis model bisnis dan kelayakan investasi menara telekomunikasi jenis pole dan greenfields di Kota Magelang. Metodologi melibatkan pengumpulan data sekunder (harga fisik menara, perizinan, pendapatan sewa) dari PT. Dayamitra Telekomunikasi Indonesia dan literatur. Analisis kelayakan proyek menggunakan Life Cycle Costing (LCC), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Break Even Point (BEP), Payback Period (PP), dan Benefit Cost Ratio (BCR), dengan asumsi umur ekonomis 25 tahun, inflasi 2,75%, dan suku bunga 6%. Hasil LCC menunjukkan menara pole jauh lebih efisien dengan biaya total Rp 875.806.685,00 dibandingkan greenfields Rp 5.516.212.272,00. Kedua jenis menara dinyatakan layak secara investasi. Menara greenfields memiliki NPV Rp 13.073.472.067, IRR 20%, BEP tahun ke-4 bulan ke-11, PP 1,05 tahun, dan BCR 11,49. Sementara itu, menara pole menunjukkan kelayakan yang lebih unggul dengan NPV Rp 2.467.207.578, IRR 23%, BEP tahun ke-4 bulan ke-6, PP 1,22 tahun, dan BCR 14,48. Dengan demikian, menara pole direkomendasikan karena efisiensi biaya dan pengembalian modal yang lebih cepat.