Evaluasi Kinerja Simpang dan Biaya Konsumsi Bahan Bakar pada Simpang Empat Ketandan Ringroad Timur berdasarkan PKJI 2023 dan Pemodelan Vissim
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Pertumbuhan volume kendaraan di kawasan simpang Ketandan Ringroad Timur Yogyakarta
menyebabkan penurunan kinerja lalu lintas dan peningkatan konsumsi bahan bakar akibat tundaan
yang tinggi. Jalan garuda sebagai salah satu yang terhubung langsung ke simpang Ketandan turut
memberikan kontribusi terhadap tingginya arus lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi kinerja simpang eksisting serta mengusulkan alternatif solusi yang dapat
meningkatkan efisiensi lalu lintas dan menurunkan kerugian konsumsi bahan bakar.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Pengambilan
data lalu lintas dilaksanakan selama tiga hari dengan ketentuan dua hari kerja dan satu hari libur.
pengambilan data dilakukan selama 3 sesi yaitu sesi pagi, siang, dan sore. Analisis simpang
dilakukan untuk mendapatkan kinerja berupa tundaan dan tingkat pelayanan. Metode yang
digunakan analisis kinerja simpang berdasarkan PKJI 2023 dan simulasi menggunakan perangkat
lunak PTV VISSIM. Selain itu, dilakukan perhitungan estimasi kerugian konsumsi bahan bakar
menggunakan metode LAPI ITB (2003) dan Lamsal ATIS-India (2013).
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting memiliki derajat kejenuhan yang
tinggi pada seluruh pendekat berdasarkan PKJI 2023, yaitu sebesar 1,84 pada lengan Barat, 1,45
pada lengan Utara, 1,45 pada lengan Timur dan 1,18 pada lengan Selatan. Tundaan rata-rata simpang
menurut PKJI mencapai 334,54 det/smp. Berdasarkan simulasi VISSIM, tundaan rata-rata tercatat
sebesar 235,5 det/kend dengan panjang antrian terpanjang sebesar 386,088 m pada pendekat Timur.
Estimasi kerugian konsumsi bahan bakar mencapai Rp 3.625.049 per jam menurut metode LAPI
ITB dan Rp 1.449.790 per jam menurut metode Lamsal ATIS-India. Tiga alternatif solusi diuji,
Seluruhnya disertai pengaturan Jalan Garuda menjadi satu arah dengan pelarangan arus masuk dari
arah jalan Garuda menuju simpang. Alternatif 3 terbukti paling efektif, yaitu penyesuaian waktu
siklus menjadi 156 detik dan pelarangan belok kanan pada pendekat Utara serta Selatan. Alternatif
ini menurunkan derajat kejenuhan menjadi 1,23 di Pendekat Barat, 1,14 di pendekat Utara, 1,28 di
pendekat Timur dan 1,22 pendekat Selatan. Rata-rata Tundaan di simpang juga menurun menjadi
129,6 det/kend dan estimasi kerugian akibat konsumsi bahan bakar menunjukkan penurunan
signifikan setelah dilakukan perbaikan pada simpang. Berdasarkan metode LAPI ITB, kerugian
menurun menjadi Rp 1.889.042 per jam atau berkurang sebesar 47,89% dibandingkan kondisi
eksisting. Sementara itu, hasil estimasi menggunakan metode Lamsal (ATIS-India) mencatat
kerugian sebesar Rp 756.369 per jam yang berarti terjadi penurunan sebesar 47,83% dari kondisi
awal.