Aspek Bioetika Dalam Penanganan Kasus Penyakit Menular Seksual Pada Remaja Di Yogyakarta
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Latar Belakang : Saat ini diperkirakan terdapat 340 juta kasus penyakit menular
seksual yang dapat disembuhkan ditemukan setiap tahunnya di seluruh dunia. Proporsi
terbesar kasus penyakit menular seksual terjadi di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Secara global infeksi ini menyebabkan beban ekonomi dan kesehatan yang besar, terutama di
negara-negara berkembang dimana penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi hingga
sebesar 17 % (WHO, 2007). Tingginya kasus penyakit menular seksual pada remaja dan usia
muda tidak saja menimbulkan permasalahan kesehatan namun juga permasalahan etika dalam
penanggulangan kasus-kasus ini.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui isu bioetik yang menonjol dalam penanganan
kasus penyakit menular seksual pada remaja di Yogyakarta dan pandangan dokter terhadap
isu-isu dan dilema-dilema bioetika yang muncul dalam pelayanan kesehatan penyakit
menular seksual pada remaja.
Metode Peneilitan : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
triangulasi berupa pengambilan data sekunder, in-depth interview dan studi referensi dalam
penyusunannya. Populasi penelitian ini adalah seluruh dokter pada Poli Kebidanan dan
Kandungan serta Poli Kulit dan Kelamin di rumah sakit PKU Yogyakarta.
Hasil Penelitian : Kasus penyakit menular seksual yang ditemukan dalam rentang
waktu 1 Januari 2010 sampai 31 Desember di RS PKU Yogyakarta didapatkan populasi
sebanyak 24 dengan frekuensi tertinggi didapatkan pada pasien dengan rentang usia 25
sampai 45 tahun yakni sejumlah 14 kasus dan 6 kasus PMS diderita oleh pasien usia remaja (
≤19 tahun). Kasus yang terbanyak ditemukan adalah Gonorrhea (87,5%), HIV (8,3%) dan
Sifilis (4,16%). Isu etika yang ditemui dokter dalam penanganan PMS pada remaja terutama
dalam hal penggalian informasi tentang perilaku seksual yang beresiko, penyampaian
informasi kepada wali atau orang tua pasien, pengambilan keputusan terapi pada pasien
remaja serta menjaga kerahasiaan pasien. Dilema bioetik yang terutama ditemui oleh dokter
dalam penanganan kasus PMS pada remaja adalah karena adanya konflik dari aspek
confidentiality, dimana seorang dokter diwajibkan untuk menjaga kerahasiaan pasiennya
dengan aspek non maleficence, dimana di sisi lain seorang dokter juga memiliki tanggung
jawab medis dan moral untuk mencegah terjadinya penularan penyakit yang lebih luas.
Dalam menangani dilema etik dalam kasus – kasus sensitif seperti itu ketiga responden
melakukan pendekatan dengan mempertimbangkan aspek autonomy dan confidentiality
pasiennya.
Kesimpulan : Isu etika yang ditemui dokter dalam penanganan PMS pada remaja terutama
dalam hal penggalian informasi tentang perilaku seksual yang beresiko, penyampaian
informasi kepada wali atau orang tua pasien, pengambilan keputusan terapi pada pasien
remaja serta menjaga kerahasiaan pasien. Dilema bioetik yang terutama ditemui oleh dokter
dalam penanganan kasus PMS pada remaja adalah adanya konflik dari aspek confidentiality,
dengan aspek non maleficence. Dalam menangani dilema etik dalam kasus – kasus sensitif
seperti itu ketiga responden melakukan pendekatan dengan mempertimbangkan aspek
autonomy dan confidentiality pasiennya
Kata Kunci : Bioetik, Dilema bioetik, Penyakit Menular Seksual, Remaja