<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Peran Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Beringharjo dalam Pemberdayaan Masyarakat

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Penanganan krisis di tahun 1997 termasuk melahirkan sebuah terobosan dalam memajukan ekonomi berbasis masyarakat yang dikenal dengan Badan Usaha Mandiri Terpadu (BMT) atau Baitul Maal wat Tamwil. BMT sengaja dihadirkan selain menjadi jawaban atas ekonomi kerakyatan berbasis keluarga, BMT turut menjembatani pihak agnia dan masyarakat dhuafa dalam mengelola dan memberdayakan ekonomi kreatif yang produktif dalam masyarakat sosial. Penelitian ini berfokus pada Peran Baitul Maal wat Tamwil Beringharjo dalam Pemberdayaan Masyarakat yang berlokasi di daerah Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Lapangan (Field Research). Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan metode wawancara.Wawancara yang dilakukan meliputi beberapa aspek, diantaranya Manager Baitul Maal, Staff Pemberdayaan Program Pemberdayaan Ekonomi, perwakilan dari masing-masing program pemberdayaan; Simbah Harjo Development, Depo Simbah Harjo, dan Jogjinawi. Sistematika yang dijalankan diantara program tentu berbeda, tergantung jenis program yang di dampingi. Akad yang digunakan cenderung berupa Qard dan dana Hibah. Hasil penelitian ini menunjukan beberapa aspek yakni, Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Beringharjo memiliki peran ganda dimana mencakup fungsi sosial dan fungsi komersial. Baitul maal berfungsi sebagai pihak yang bertugas menerima dan menyalurkan dana non-profit seperti zakat, infaq, dan sedekah dengan model pemberdayaan masyarakat. Sedangkan Baitul Tamwil mengelola dana secara komersil dengan bentuk koperasi. Penghimpunan dana di BMT Beringharjo masingmasing berbeda antara Baitul Maal dan BaitulTamwil. Baitul Maal menghimpun dana internal dan eksternal. Masyarakat terutama Penerima Manfaat lah yang harus menjadisubjek dari pemberdayaan itu sendirisehingga pemberdayaandapat berjalan dengan optimal, dan perlu dicatat, penerima manfaat mampu menentukan usaha dan cara kerja mereka sendiri dalam menjalankan usaha merupakan hal yang paling penting dalam tingkatan pemberdayaan. Dan hanya melalui cara itu saja program dan kegiatan pemberdayaan, atau pendampingan usaha terhadap masyarakat itu di uji.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By