Efektivitas dan Reaksi Obat yang tidak dikehendaki Pada Penggunaan Obat Antiartritis Reumatoid di RSUD Sleman
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Latar belakang: Pengobatan artritis reumatoid (AR) berpotensi menimbulkan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, terapi pengobatan yang efektif dan aman dibutuhkan untuk mencegah komplikasi AR. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan ROTD pada penggunaan obat antiartritis reumatoid. Metode: Rancangan case-series bersifat retrospektif menggunakan data rekam medis RSUD Sleman tahun 2020-2024. Analisis data dilakukan berdasarkan regimen pengobatan pada setiap kunjungan. Penilaian efektivitas dan ROTD didasarkan pada gejala, data klinis, atau keduanya. Analisis data: Analisis univariat menggunakan Microsoft Excel 365 dan IBM SPSS versi 30.0. Hasil: Total 18 pasien AR melakukan 61 kunjungan dengan 7 variasi regimen. Efektivitas dari 13 pasien dengan regimen tetap sebesar 38,5%, sementara efektivitas dari 5 pasien dengan regimen berubah sebesar 80,0%. Regimen kombinasi glukokortikoid, DMARD, dan vitamin menunjukkan efektivitas tertinggi sebesar 81,8%. Enam pasien mengalami ROTD terutama peningkatan tekanan darah yang dicurigai akibat metilprednisolon dan atau meloksikam. Kesimpulan: Seluruh pasien menunjukkan efektivitas terapi sebesar 64,3% dan mayoritas regimen pengobatan AR memberikan hasil cukup baik. Mayoritas pasien AR tidak menggunakan DMARD sebagai terapi utama. Penggunaan glukokortikoid perlu dipantau secara ketat karena berpotensi menimbulkan berbagai ROTD.