Pusat Kesenian Tradisional di Bengkulu Re-presentasi Arsitektural Tabot kedalam perancangan melalui konsep Bernard Tschumi "Transformasi dan superimposisi”
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Seni dan Budaya merupakan sesuatu yang tidak dapat lepas dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, banyak perkumpulan, sanggar seni dan budaya yang menunjukkan tingkat predikat yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan. Dengan nilai positif atau potensi tersebut merupakan peluang bagi Kotamadya Bengkulu untuk menjadi daerah tujuan wisata. Dengan berbagai fenomena-fenomena yang terjadi menyebabkan potensi dan predikat yang ada menjadi menurun, adapun yang menjadi penyebab utamanya adalah tidak adanya suatu pusat pengembangan dan pelatihan yang dapat menjadi acuan dalam rangka memajukan kesenian tradisional, dan minimnya fasilitas-fasilitas rekreasi serta faktor alam, sosial dan politik yang tidak menentu. Pusat Kesenian Tradisional di Bengkulu merupakan pusat dari pengembangan kesenian tradisional Bengkulu yang diharapkan mampu mengemas dan memadukan gerak perkembangan seni-budaya Bengkulu baik di tingkat nasional maupun Intemasional sehingga senibudaya. Bengkulu sebagai salah satu kekayaan kebudayaan Indonesia dapat menjadi prioritas setelah Bali dan Jogjakarta yang sudah berkembang jauh lebih baik. Dalam perancangannya, bangunan ini merupakan re-presentasi Tabot, sebagai budaya tradisional Bengkulu. Tabot merupakan tema utama perancangan, pencarian makna Tabot melalui metode "Bernard Tschumi" yaitu metode transformasi dan superimposisi, guna menemukan hakikat makna Tabot kedalam arsitektural. Hal ini diharapkan dapat memberikan dan memunculkan pemahaman dan pemikiran yang lebih mendalam dan menyebarluaskan makna Tabot ke dalam lapisan masyarakat ketika arsitektur hadir dalam bahasa bentuk dan simbol.