<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN APOTEKER TENTANG GOOD COMPOUNDING PRACTICE DAN IMPLEMENTASINYA DI APOTEK

Abstract

Kualitas masih menjadi masalah utama obat racikan, dikarenakan pembuatan obat racikan belum dikenai persyaratan ketat seperti yang diterapkan pada industri farmasi. Untuk meningkatkan kualitas obat racikan, peracik harus mengikuti pedoman untuk meracik obat, salah satunya adalah Good Compounding Practice (GCP). Hasil penelitian terdahulu di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan GCP kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tingkat pengetahuan apoteker tentang GCP dan implementasinya di apotek. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan rancangan penelitian cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner elektronik kepada 100 orang apoteker yang bekerja di apotek. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-November 2018. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tingkat pengetahuan apoteker tentang GCP sangat baik dengan nilai rata-rata 75%. Implementasi GCP oleh apoteker juga tergolong baik, dengan nilai rata-rata 74%. Karakteristik demografi yang meliputi tahun kelulusan 2007 keatas, lama bekerja lebih dari 4 tahun, pernah mendapat pelatihan GCP, wanita, dan bekerja di puskesmas, klinik, dan RS cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik. Karakteristik demografi yang meliputi tahun kelulusan antara 1988-2007, lama bekerja kurang dari 4 tahun, pernah mendapat pelatihan GCP, pria, dan bekerja di puskesmas, klinik, dan RS cenderung dapat mengimplementasikan GCP dengan baik. Sementara responden yang tingkat pengetahuannya kurang, cenderung dapat menerapkan GCP dengan baik, hal ini terjadi karena terdapat kendala yang ditemui apoteker dalam menerapkan GCP.

Description

Citation

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By