Analisis Determinan Infeksi Saluran Kemih Pada Penyandang Spinal Cord Injury : A Scoping Review
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Latar Belakang: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada penyandang spinal cord injury (SCI) dan berkontribusi signifikan terhadap morbiditas, lama rawat inap, serta penurunan kualitas hidup pasien. Gangguan fungsi neurologis akibat SCI, khususnya pada sistem kemih, menyebabkan gangguan pengosongan kandung kemih, stasis urin, serta meningkatnya kebutuhan penggunaan alat bantu seperti kateter, yang selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya ISK. Tujuan Penelitian: Penelitian Scoping Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan determinan terjadinya infeksi saluran kemih pada penyandang spinal cord injury berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia. Metode Penelitian: Penelitian dilakukan dengan pendekatan scoping review dan berpedoman pada panduan Preferred Reporting Items for Scoping Review (PRISMA-ScR). Artikel diperoleh dari database PubMed, dan ScienceDirect dengan kriteria publikasi tahun 2015–2025. Proses seleksi melibatkan tahap identifikasi, skrining, eligibilitas, dan inklusi, serta dianalisis menggunakan tabel ekstraksi data. Hasil Penelitian: Didapatkan tujuh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan memenuhi proses screening. Hasil sintesis menunjukkan bahwa determinan yang paling konsisten berhubungan dengan kejadian ISK pada pasien SCI adalah metode manajemen kandung kemih, khususnya penggunaan indwelling catheter (IDC). Faktor lain yang turut berperan meliputi tingkat keparahan cedera neurologis berdasarkan ASIA Impairment Scale (AIS), lokasi lesi spinal, lama rawat inap, status nutrisi, penggunaan antibiotik kumulatif, serta adanya kondisi tambahan seperti polytrauma dan inkontinensia urin. Kesimpulan: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada penyandang spinal cord injury (SCI) dan berkontribusi signifikan terhadap morbiditas, lama rawat inap, serta penurunan kualitas hidup pasien. Gangguan fungsi neurologis akibat SCI, khususnya pada sistem kemih, menyebabkan gangguan pengosongan kandung kemih, stasis urin, serta meningkatnya kebutuhan penggunaan alat bantu seperti kateter, yang selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya ISK.