Perbandingan Penggunaan Antibiotik Selama dan Setelah Pandemi Covid-19 Untuk Seluruh Puskesmas di Kota Yogyakarta
Files
Date
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Latar belakang: Terapi antibiotik untuk penanganan infeksi COVID-19 dilakukan sebagai tindakan preventif terhadap infeksi bakteri sekunder yang dapat meningkatkan kemungkinan komplikasi atau memperburuk infeksi COVID-19. Karena hal ini, diduga akan adanya peningkatan permintaan antibiotik. Tingginya angka peresepan antibiotik di tengah rendahnya insiden ko-infeksi bakteri menggarisbawahi perlunya kepatuhan yang lebih ketat terhadap prinsip-prinsip pengelolaan antimikroba untuk mengurangi risiko yang terkait dengan penggunaan antibiotik yang berlebihan. Tujuan: Mengetahui perbedaan penggunaan jenis antibiotik dan kuantitas penggunaannya antara selama dan setelah pandemi COVID-19 untuk seluruh Puskesmas di Wilayah Kota Yogyakarta. Metode: Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) dan Drug Utilization 90% (DU90%). Hasil: Terdapat perbedaan rata-rata kuantitas penggunaan antibiotik di seluruh Puskesmas Kota Yogyakarta pada masa selama pandemi dengan setelah pandemi. Kesimpulan: Tiga antibiotik dengan penggunaan tertinggi diantaranya amoksisilin (1824 DDD/1000 penduduk), siprofloksasin (298 DDD/1000 penduduk) dan kotrimoksazol (110 DDD/1000 penduduk). Rata-rata kuantitas penggunaan antibiotik per bulan selama pandemi adalah 2,05 DDD/1000 penduduk dan setelah pandemi adalah 2,66 DDD/1000 penduduk. Amoksisilin dan siprofloksasin adalah antibiotik yang selalu masuk dalam segmen DU90% selama periode tahun 2020-2024.