<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Perilaku Perceraian Suku Sasak Nusa Tenggara Barat: Sebab-sebab dan Dampak yang Ditimbulkan

dc.Identifier.NIM01320223
dc.contributor.authorBerliana, Fita
dc.date.accessioned2026-07-04T06:55:10Z
dc.date.available2026-07-04T06:55:10Z
dc.date.issued2009
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab tingginya perceraian pada Masyarakat Suku Sasak Nusa Tenggara Barat. Perceraian merupakan peristiwa yang sebenarnya tidak direncanakan dan dikehendaki kedua individu yang sama- sama terikat dengan perkawinan. Perceraian, bagaimanapun dianggap sebagian jalan terakhir yang harus ditempuh ketika hubungan perkawinan itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Suku Sasak memiliki tingkat perceraian yang sangat tinggi. Apa saja yang menjadi latar belakang tingginya perceraian? Serta dampak apa saja yang ditimbulkan dari perceraian tersebut? Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat asli Suku Sasak yang menetap di daerah Lombok. Data diambil dari empat orang responden yang memiliki kriteria yaitu, benar-benar masyarakat asli Suku Sasak yang tidak memiliki garis keturunan dari suku lain, pernah menikah lebih dari satu kali baik laki-laki maupun perempuan atau masih berstatus janda maupun duda. Metode pengambilan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam. Dari hasil wawancara diperoleh hasil sebab-sebab terjadinya perceraian adalah dipicu oleh setiap konflik yang terjadi dimaknai sebagai indikator kegagalan perkawinan yang hanya dapat diselesaikan dengan perceraian tanpa adanya proses komunikasi terlebih dahulu dengan pasangan masing-masing, sehingga dapat dikatakan bahwa penyebab utama peceraian adalah konflik-konflik yang timbul yang tidak dapat diselesaikan. Hal-hal yang dapat memicu timbulnya konflik dalam rumah tangga ialah: 1). Perselingkuhan, 2). Campur tangan orang tua dalam pernikahan, 3). Poligami, yang terdiri dari konflik yang timbul dalam diri dan konflik dengan istri yang lain, 4). Sikap pasangan yang menyangkut rasa cemburu yang berlebihan, ketidak jujuran, ketidakdewasaan pasangan, boros dan tidak bias membantu suami, sikap pasangan pada mertua dalam mengatur rumah tangga, serta sikap pasangan yang keras dan sering tidak mampu menahan diri untuk tidak bekata kasar dan tajam. Dampak yang ditimbulkan dari perceraian lebih banyak menyangkut anak-anak korban perceraian yaitu: 1). Timbul rasa benci anak pada salah satu orang tua yang mengakibatkan adanya keinginan melakukan kekerasan, 2). Adanya kecendrungan menyalahkan orang tua atas perceraian yang terjadi, 3). Kehidupan anak-anak tidak terjamin dan yang terakhir 4). Anak menjadi tulang punggung keluarga.en_US
dc.identifier.urihttps://repository.uii.ac.id/handle/123456789/64058
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectPerceraianen_US
dc.subjectSuku Sasaken_US
dc.subjectSuku Sasak Nusa Tenggara Baraten_US
dc.subjectDampak Perceraianen_US
dc.titlePerilaku Perceraian Suku Sasak Nusa Tenggara Barat: Sebab-sebab dan Dampak yang Ditimbulkanen_US
dc.typeThesisen_US

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
01320223.pdf
Size:
836.93 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description:

Collections