Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Debit Drainase di Kapanewon Ngaglik, Sleman
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Pertumbuhan penduduk di Kapanewon Ngaglik terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini menyebabkan peningkatan perubahan lahan yang mempengaruhi kemampuan lahan untuk menyerap air hujan dan debit limpasan. Hal ini dapat diatasi dengan perencanaan saluran drainase dan penerapan konsep sponge city. Konsep sponge city merupakan konsep tata ruang yang memungkinkan air untuk diserap dan ditampung semaksimal mungkin seperti spons sehingga dapat mengurangi debit limpasan. Penelitian ini dimulai dengan tahapan analisis hidrologi, kemudian menentukan daerah tangkapan air (DTA), menentukan koefisien limpasan berdasarkan citra satelit dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sleman tahun 2021-2041, menghitung intensitas hujan rencana, dan menghitung debit limpasan dari masing-masing DTA. Penelitian ini diakhiri dengan perencanaan saluran drainase dan penerapan konsep sponge city dengan membuat beberapa skenario perubahan tata guna lahan untuk mengurangi sumber debit limpasan. Hasil penelitian menunjukkan pada rentang tahun tahun 2021-2023 terdapat 364 dari 928 DTA yang mengalami peningkatan debit limpasan, pada rentang tahun 2023-2024 terdapat 688 dari 928 DTA yang mengalami peningkatan nilai debit limpasan, dan pada tahun 2024 terdapat 588 DTA dari 928 DTA yang debit limpasannya melebihi debit limpasan RTRW. Desain saluran drainase direncanakan menggunakan precast tipe u-ditch dengan dimensi sesuai debit limpasan yang harus dilayani pada setiap saluran. Konsep sponge city diterapkan dengan mengkonversi tutupan lahan eksisting melalui beberapa skenario Low Impact Development (LID). Pada skenario low-LID, mid- LID, dan high-LID dapat mengurangi debit limpasan dengan nilai rata-rata sebesar 2,82%, 5,64%, dan 11,27% dari debit limpasan skenario baseline.