Perancangan Pusat Pengembangan Kerajinan Eceng Gondok di Kota Makassar dengan Pendekatan Neo-vernakular
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Kerajinan eceng gondok telah dikembangkan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Kota Makassar. Bidang kerajinan ini mulai disosialisasikan oleh Dekranasda Kota Makassar pada tahun 2015. Kerajinan ini berkembang hingga menembus pasar mancanegara. Namun, jumlah permintaan kerajinan eceng gondok yang tinggi belum mampu dipenuhi oleh pengrajin di Kota Makassar karena kurangnya sumber daya manusia baik pengrajin ataupun pengumpul eceng gondok. Kurangnya pengumpul eceng gondok mempengaruhi ketersediaan bahan baku kerajinan. akibatnya pengrajin harus mengambil bahan baku dari daerah lain. Padahal, Dekranasda Kota Makassar mengembangkan kerajinan eceng gondok untuk memanfaatkan tanaman eceng gondok yang ada di perairan Kota Makassar. Danau Tanjung Bunga menjadi salah satunya. Danau yang menjadi langganan tempat tumbuh tanaman eceng gondok ini berada di sekitar kawasan Budaya Benteng Somba Opu. Benteng peninggalan kerajaan Gowa Tallo ini telah menjadi kawasan budaya yang menampilkan contoh rumah tradisional yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, area masuk kawasan ini memiliki gaya arsitektur yang berbeda dan kurang korelasi dengan area utamanya. Perancangan Pusat Pengembangan kerajinan Eceng Gondok dibuat untuk merespon isu fungsi dan isu lokasi yang ada dengan tujuan mewadahi kegiatan yang meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya para pengrajin dan pengumpul eceng gondok serta meningkatkan korelasi gaya arsitektur di area masuk dan utama kawasan Budaya Benteng Somba Opu dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Neo-vernakular.