<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Konsep Pendidikan Nondikotomik dalam Perspektif Fazlur Rahman

dc.Identifier.NIM03913016
dc.contributor.authorIkhtiono, Gunawan
dc.date.accessioned2026-01-26T07:02:02Z
dc.date.available2026-01-26T07:02:02Z
dc.date.issued2006
dc.description.abstractDikotomi antara Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan umum bukanlah permasalahan baru dalam Sistem Pendidikan Islam. Wacana tersebut telah lama muncul dan masih menjadi persoalan rumit yang belum terselesaikan. Hal ini disebabkan karena batasan antara kajian yang bersifat agama dan non agama yang diajarkan pada setiap satuan pendidikan masih banyak menjadi perdebatan di kalangan ahli. Wacana ini juga menjadi lebih hangat ketika masing-masing ahli yang nota bene berbeda dalam keyakinan, membahas kedudukan keduanya dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk. Indikasi Pemisahan atau dikotomi tersebut terlihat sejak Al-Ghazali (405/1058505/1111) mewajib 'ain-kan ilmu agama dan mewajib khifayah-kan ilmu pengetahuan umum/keduniaan. Hal ini di perjelas oleh Karl Marx (1818- 1883) yang mengatakan bahwa agama itu candu (opium). Bahkan divonis Friederich Nietzsche (1844-1900) bahwa Tuhan telah mati "god is dead". Akhirnya agama menjadi urusan individu setiap manusia dan tidak boleh dicampur-aduk dengan urusan Negara (sekuler) lebih khususnya urusan pendidikan. Kemudian sekulerisme tersebut meresap kedalam sistem pendidikan Islam. Dan telah menyebar keseluruh aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Fazlur Rahman berupaya mengislamkan pendidikan, yakni agar memasukkan korisep-konsep kunci tertentu mengenai Islam. Beliau mengemukakan sebuah pendekatan untuk menyerap pendidikan sekuler modern yang telah maju di Barat, dan berusaha untuk mengislamkannya. Yaitu dengan memasukkan konsep-konsep kunci tertentu dari Islam. Pendekatan ini, lanjut Fazlur Rahman, mempunyai dua tujuan terpisah, nieskipun keduanya tidak selalu terpisah satu sama lain. Pertama, dengan membentuk karakter para pelajar dengan nilai-nilai Islam bagi kehidupan individual dan kolektif; dan kedua, untuk memungkinkan para ahli pendidikan modern untuk mewarnai bidang-bidang kajian mereka pada level-level pendidikan tinggi, dengan menggunakan perspektif Islam untuk mentransformasi, jika perlu, baik muatan maupun orientasi bidang-bidang tersebut. Jadi proses pengislaman ilmu pengetahuan itu tidak harus secara total menolak sistem pehdidikan di Barat, kareha dalam suatu sistem itu ada kelebihan dan kekurangannya. Artinya, dengan tetap menggunakan sistem yang ada, sekaligus memperbaharui segala kekurangannya. Pada dasarnya konsep tersebut terinspirasi dari Kaidah Fiqiyah, al-mukhafadzatu ala al-qadimi sholeh, wal akhdzu ala jadidi al-ashlakh, mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.en_US
dc.identifier.urihttps://repository.uii.ac.id/handle/123456789/59770
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKonsep Pendidikanen_US
dc.subjectNondikotomiken_US
dc.subjectFazlur Rahmanen_US
dc.titleKonsep Pendidikan Nondikotomik dalam Perspektif Fazlur Rahmanen_US
dc.typeThesisen_US

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
03913016.pdf
Size:
6.3 MB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: