<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Analisis dan Koordinasi Antar Simpang Bersinyal (Studi Kasus : Simpang Ngabean dan Simpang Wirobrajan Yogyakarta)

dc.Identifier.NIM13511042
dc.contributor.advisorBerlian Kushari
dc.contributor.author13511042 Achmad Ananta Hadi
dc.date.accessioned2021-06-28T04:43:22Z
dc.date.available2021-06-28T04:43:22Z
dc.date.issued2020
dc.description.abstractMeningkatnya volume kendaraan tidak diimbangi dengan berkembangnya ruas jalan yang memadai. Sehingga tidak heran bila di daerah kota sering terjadi kemacetan karena padatnya lalu lintas. Salah satu hal yang harus diperhatikan untuk melancarkan arus lalu lintas adalah persimpangan. Simpang Ngabean dan Simpang Wirobrajan Yogyakarta di ruas jalan RE Martadinata merupakan contoh simpang bersinyal di daerah kota yang sering menimbulkan kemacetan. Salah satu bentuk rekayasa lalu lintas untuk mengurangi kemacetan adalah dengan koordinasi antar simpang bersinyal. Pada penelitian ini, analisis perhitungan kinerja simpang bersinyal mengikuti pedoman MKJI 1997. Survei lapangan dilakukan pada jam sibuk di hari Senin (weekday) dan Sabtu (weekend), kemudian dicari jam puncaknya. Volume pada jam puncak digunakan untuk perhitungan kinerja simpang kondisi eksisting. Setelah mengetahui kinerja simpang kondisi eksisting, selanjutnya membuat perencanaan waktu siklus baru untuk kedua simpang. Waktu siklus baru dengan kinerja terbaik akan digunakan untuk koordinasi kedua simpang. Pemilihan waktu siklus terbaik dengan cara membandingkan nilai derajat kejenuhan (DS), panjang antrean (QL), dan tundaan (Delay). Pada penelitian ini, dilakukan koordinasi simpang dengan mencari waktu siklus baru. Pada hari kerja, waktu siklus di kedua simpang menjadi 125 detik. Sedangkan pada hari libur waktu siklus di kedua simpang menjadi 95 detik. Dengan menggunakan waktu siklus baru tersebu, kinerja simpang menjadi sedikit lebih baik karena panjang antrean nilai tundaan rata – rata mengalami penurunan. Waktu siklus baru dan koordinasi tersebut hanya akan bekerja optimal jika diterapkan sesuai kondisi masing - masing. Waktu siklus 125 detik akan optimal jika diterapkan pada hari kerja (weekday) karena volume kendaraan yang lebih tinggi. Jika waktu siklus tersebut diterapan untuk hari libur, maka nilai tundaan akan mengalami peningkatan. Sedangkan waktu siklus 95 detik akan optimal jika diterapkan pada hari libur (weekend) karena volume kendaraan yang lebih rendah. Jika waktu siklus tersebut diterapkan pada hari kerja (weekday), maka panjang antrean akan mengalami peningkatan.en_US
dc.identifier.urihttps://repository.uii.ac.id/handle/123456789/29727
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKemacetanen_US
dc.subjectkoordinasi simpangen_US
dc.subjectMKJI 1997en_US
dc.subjectWaktu Siklusen_US
dc.subjectTundaanen_US
dc.titleAnalisis dan Koordinasi Antar Simpang Bersinyal (Studi Kasus : Simpang Ngabean dan Simpang Wirobrajan Yogyakarta)en_US

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
13511042 Achmad Ananta Hadi.pdf
Size:
8.39 MB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: