<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Perbaikan Stasiun Kerja Yang Ergonomis Guna Mengurangi Risiko Work-Related Musculoskeletal Disorders (Studi Kasus Pt. Yamaha Indonesia)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Perusahaan yang membutuhkan banyak aktivitas kerja secara manual, tidak menutup kemungkinan tenaga manusia menjadi peran utama dalam penanganannya. Akan tetapi ironisnya seringkali dijumpai pada perusahaan yang proses produksinya tidak menerapkan sarana kerja berstandar ergonomis. Padahal penerapan aspek ergonomi bertujuan untuk mengurangi risiko keselamatan kerja salah satunya risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) yaitu masalah signifikan yang menimbulkan rasa sakit, nyeri, ataupun mati rasa pada segmen tubuh. Oleh karena itu diperlukan suatu alternatif antara lain merancang postur kerja, peralatan kerja, dan kondisi pendukung lainnya agar operator dapat bekerja secara teratur tanpa menyebabkan sakit yang berarti. Saat ini stasiun kerja Silent Sub Assy UP di PT. Yamaha Indonesia, aktivitas kerjanya masih dilakukan secara manual. Sementara itu keadaan postur kerja, peralatan kerja ataupun sarana kerja lainnya masih belum diperhatikan dan difasilitasi dari aspek manusianya yaitu ergonomi. Sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan risiko MSDs. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan identifikasi penyebab dan diproses mana terjadinya risiko MSDs tertinggi menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Setelah diidentifikasi, melakukan kuesioner Nordic Body Map (NBM) guna mengetahui segmen tubuh yang mengalami rasa sakit, selain itu melakukan analisis postur tubuh untuk mengetahui level risiko dan jenis tindakan dengan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). Langkah akhir, perancangan usulan alat bantu kerja yang mempertimbangkan aspek manusianya dengan tools antropometri guna mengetahui dimensi yang sesuai pada manusia. Hasil yang diperoleh adalah berdasarkan AHP, terjadinya risiko MSDs tertinggi pada proses electrical assy Bawah dengan hasil bobot prioritas sebesar 0,44336, kemudian jika dilihat dari hasil NBM operator electrical assy Bawah mengalami keluhan di bagian leher Atas , leher Bawah , punggung dan pinggang. Sementara itu dari hasil analisis REBA diketahui level risiko sangat tinggi dengan skor 11 yang berarti perlu dilakukan tindakan saat ini juga. Maka pada penelitian ini mengusulkan alat bantu kerja berupa lifter dan Saddle Stool serta menggunakan dimensi antropometri tinggi popliteal (TPO) dan Tinggi Lutut (TL) sebagai acuan tinggi lifter dan tinggi minimum/maximum Saddle Stool.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By