Perbandingan Grey Model GM(1,1) dan Grey Verhulst Pada Peramalan Konsumsi Listrik di Indonesia (Studi Kasus : Data Konsumsi Listrik (GWh) Indonesia Tahun 2000-2024)
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Kebutuhan energi listrik di Indonesia terus meningkat seiring perkembangan ekonomi, teknologi, dan pertumbuhan penduduk. Kondisi ini menuntut adanya perencanaan energi yang tepat agar pasokan listrik tetap stabil. Peramalan konsumsi listrik diperlukan untuk memprediksi kebutuhan di masa mendatang sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan energi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja dua model dalam teori Grey System, yaitu Grey Model GM(1,1) dan Grey Verhulst, dalam meramalkan konsumsi listrik Indonesia. Data yang digunakan merupakan data tahunan konsumsi listrik Indonesia periode 2000–2024 yang diperoleh situs resmi BPS dan Kementrian ESDM. Tahapan analisis meliputi pembentukan model, penentuan parameter, peramalan, serta evaluasi akurasi menggunakan Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Grey Verhulst memiliki akurasi lebih baik dibandingkan GM(1,1), dengan nilai RMSE sebesar 10.955,97; MAE sebesar 9.233,64; dan MAPE sebesar 5%, sedangkan GM(1,1) menghasilkan RMSE sebesar 23.562,39; MAE sebesar 15.151,57; dan MAPE sebesar 9%. Hal ini menunjukkan bahwa Grey Verhulst lebih sesuai untuk data konsumsi listrik yang memiliki pola pertumbuhan menyerupai kurva S. Model terbaik, yaitu Grey Verhulst, menghasilkan prediksi konsumsi listrik tahun 2025 sebesar 388.025 GWh. Hasil ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan kebijakan ketenagalistrikan nasional.