Perancangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Berbasis Pariwisata dengan Pendekatan Arsitektur Ekologi di Pantai Pasar Bawah Kota Manna
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Kota Manna berada di Kabupaten di Provinsi Bengkulu, dengan luas wilayah 1.186 km2, memiliki sekitar 23 objek wisata, di mana 15 di antaranya
adalah wisata air dan pantai. Pantai Pasar Bawah, sebagai salah satu objek wisata unggulan, berfungsi tidak hanya sebagai tempat rekreasi
tetapi juga sebagai sumber pendapatan utama bagi nelayan lokal. Namun, bangunan dermaga dan tempat pelelangan ikan (TPI) di pantai ini
telah menimbulkan berbagai permasalahan ekologis, visual, dan sosial, menyebabkan fasilitas tersebut menjadi rusak dan terbengkalai.
Perancangan ini bertujuan untuk merancang ulang fasilitas ekonomi di Pantai Pasar Bawah dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat
serta kelestarian lingkungan. Pendekatan arsitektur ekologi diusulkan sebagai solusi, yang menekankan interaksi harmonis antara manusia dan
alam, penggunaan energi efisien, serta pemanfaatan sumber daya alam yang dapat didaur ulang. Melalui penerapan konsep ini, diharapkan
perancangan ulang TPI dapat memenuhi fungsi ekonomi dan pariwisata, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan
ekosistem di sekitarnya, sejalan dengan upaya pemerintah untuk menciptakan bangunan hemat energi di Provinsi Bengkulu. Hasil desain
menunjukkan bahwa bangunan yang dirancang dengan pendekatan ekologi mampu terintegrasi secara maksimal dengan alam. Hal ini
dibuktikan dengan terpenuhinya kebutuhan area hijau dengan luas 32,56% dari luas kawasan berdasarkan perhitungan ASD GBCI.
Menggunakan material daur ulang beton menjadi agregat kasar pengganti agregat kasar alami pada konstruksi bangunan dengan
penghematan 79,26% konstruksi beton berdasarkan standar MRC 1 GBCI. Menghadirkan fasad, shading dan vegetasi pada bagian yang
memiliki radiasi terbesar sesuai hasil dari Simulasi Formit, Selain itu Pengujian terhadap penghawaan alaimi dengan CFD menunjukan
bangunan berhasil memanfaatkan penghawaan alami didalam bangunan dengan kecepatan udara sesuai standar yaitu 0,1-1,5 m/s. Bangunan
juga berhasil memasukkan pencahayaan alami yang sesuai standar pada rata-rata 60% dari area dalam bangunan, hal ini dibuktikan melalui
pengujian Velux.