Hubungan Modal Psikologis dan Spiritualitas Terhadap Motif Berpindah Kerja Pada Karyawan Gen Z yang Bekerja di Sektor Keuangan
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara modal psikologis (psychological capital) dan spiritualitas terhadap motif berpindah kerja (job hopping motives) pada karyawan Generasi Z yang bekerja di sektor keuangan. Latar belakang penelitian didasari oleh tingginya kecenderungan berpindah kerja pada Gen Z yang dapat mengganggu stabilitas organisasi, sehingga diperlukan pemahaman mengenai faktor-faktor psikologis yang berperan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 101 karyawan Gen Z yang bekerja di sektor keuangan, diperoleh melalui teknik pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling). Instrumen yang digunakan meliputi PCQ-12 untuk mengukur modal psikologis (psychological capital), skala spiritualitas (VIA-IS), serta Job-Hopping Motives Scale (JHMS) untuk mengukur motif berpindah kerja (job hopping motives). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Modal psikologis (psychological capital) tidak berhubungan signifikan dengan motif berpindah kerja (job hopping motives) (r = 0.038; p > 0.05), (2) spiritualitas berhubungan negatif signifikan dengan motif berpindah kerja (job hopping motives) (β = –0.300; p < 0.05), dan (3) Modal psikologis (psychological capital) dan spiritualitas secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap motif berpindah kerja (job hopping motives) (p > 0.05). Temuan ini mengindikasikan bahwa spiritualitas memiliki peran penting dalam menurunkan motif berpindah kerja (job hopping motives) pada karyawan Gen Z di sektor keuangan, sementara modal psikologis (psychological capital) tidak terbukti berkontribusi langsung. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi organisasi untuk memperhatikan aspek spiritualitas karyawan sebagai strategi retensi, sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan dengan memasukkan variabel eksternal maupun moderator.