Analisis Risiko pada Rantai Pasok dan Mitigasinya di Perusahaan SP Alumunium Yogyakarta dengan Metode House of Risk
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Risiko merupakan suatu kejadia yang tidak pasti dan dapat menimbulkan dampak negatif maupun positif. Jika risiko memberi dampak negatif maka suatu perusahaan akan mengalami kerugian. Terutama pada rantai pasok yang kompleks sangat rentan terhadap risiko yang berdampak negatif. SP Alumunium Yogyakarta merupakan industri kecil perorangan yang merupakan industri pengecoran dan peleburan alumunium untuk dijadikan produk rumah tangga seperti wajan, ketel, dan lain lain. Perusahaan yang memiliki produksi tinggi rentan terhadap risiko terutama risiko yang dialami oleh sumber daya manusianya. Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi risiko dan menentukan prioritas sumber risiko beserta prioritas penanganannya pada rantai pasok SP Alumunium Yogyakarta dengan pemetaan SCOR khusus pada proses make, delivery dan return. Dan akan diselesaikan dengan metoda House of Risk. Dari hasil penelitian terdapat 37 risk event dan 22 risk agent yang teridentifikasi pada proses make Pada prose make di SP Alumunium Yogyakarta terdapat 37 kejadian risiko dan 22 penyebab risiko. Dari pengolahan data HOR 1, terdapat 5 penyebab risiko dominan yaitu Lingkungan kerja terdapat sumber bahaya, kesalahan pekerja, pekerja tidak mematuhi SOP, pekerja tidak menggunakan APD, dan lingkungan kerja tidak rapi. Dari 5 penyebab risiko dominan tersebut, didapatkan 8 mitigasi yang bisa diterapkan. Dengan prioritas mitigasi adalah menggalakkan implementasi SOP, menggalakkan implementasi penerapan APD, penempelan peringatan K3 di lantai produksi, pemberian reward dan sanksi pada karyawan, menyediakan P3K dan APD pelatihan rutin dan motivasi untuk karyawan, dan implementasi 5S. Pada proses delivery 8 kejadian risiko dan 9 penyebab risiko. Dari pengolahan data HOR 1, terdapat 5 penyebab risiko dominan yaitu kesalahan pekerja, pekerja tidak mematuhi SOP, packiging yang kurang baik, kesalahan penulisan invoice, dan miskomunikasi. Dari 5 penyebab risiko dominan tersebut, didapatkan 5 mitigasi yang bisa diterapkan. Dengan prioritas mitigasi adalah menggalakkan implementasi SOP, pelatihan rutin dan motivasi untuk karyawan, melakukan QC sebelum dikirim, mengganti metode penulisan order, dan melakukan QC pada packaging. Dan terakhir pada proses return terdapat 5 kejadian risiko dan 5 penyebab risiko. Dari pengolahan data HOR 1, terdapat 2 penyebab risiko dominan yaitu kesalahan distributor dan kesalahan pekerja. Dari 2 penyebab risiko dominan tersebut, didapatkan 4 mitigasi yang bisa diterapkan. Dengan prioritas mitigasi adalah penggantian metode menjadi tidak manual, melakukan perjanjian ke distributor, melakukan evaluasi ke distributor dan pelatihan rutin dan motivasi untuk karyawan.