Hubungan Pemberian ASI Eksklusif, Gizi Buruk, dan Vaksin Campak pada Baduta dengan Kejadian Campak
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Latar Belakang: Campak merupakan penyakit infeksi akut yang sangat menular dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama pada anak di bawah 2 tahun. Risiko meningkat pada anak dengan gizi buruk, tidak mendapat ASI eksklusif, dan belum diimunisasi karena gizi buruk menurunkan daya tahan tubuh sedangkan ASI eksklusif dan imunisasi berperan penting dalam membentuk kekebalan terhadap infeksi. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif, gizi buruk, dan vaksin campak dengan kejadian campak pada baduta. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 74.425 baduta. Pada kelompok usia 9-17 bulan sebanyak 45.589 baduta dan kelompok usia 18-24 bulan sebanyak 28.836 baduta. Variabel penelitian yaitu variabel bebas antara lain pemberian ASI eksklusif, status gizi, dan imunisasi campak, sedangkan variabel terikat adalah kejadian campak pada baduta. Analisis data mencakup analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Analisis multivariat pada kedua kelompok usia memperoleh hasil bahwa jenis kelamin, area tempat tinggal, vitamin A, ASI eksklusif, dan vaksin campak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian campak pada baduta (p-value < 0,05), sedangkan berat badan sangat kurang dan berat badan kurang tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian campak pada baduta (p-value
0,05). Jenis kelamin laki-laki, tempat tinggal di perkotaan, tidak mendapat ASI eksklusif, serta tidak menerima vaksin campak merupakan faktor risiko terjadinya campak pada anak usia 9–24 bulan. Sementara itu, pemberian vitamin A bersifat protektif pada kelompok usia 9–17 bulan. Simpulan: Terdapat hubungan antara jenis kelamin, area tempat tinggal, ASI ekslusif, dan vaksin campak dengan kejadian campak pada baduta. Tidak terdapat hubungan antara gizi buruk dengan kejadian campak pada baduta.