<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Perancangan Pusat Pelayanan Lansia di Kabupaten Blitar dengan Pendekatan Desain Taman Terapeutik

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Lansia atau Lanjut Usia adalah kelompok madyarakat berusia 60 tahun keatas dengan karakter fisik, psikis, dan sosial yang sangat khusus. lansia menjadi kelompok rentan yang membutuhkan dukungan dari masyarakat lain, terutama kelompok usia produktif, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. maka, peran masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup lansia menjadi penting. Namun, saat ini di Blitar masih ditemui banyak lansia terlantar, sedangkan kapasitas panti werdha yang tersedia belum bisa menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya suatu komplek bangunan pelayanan lansia yang berfungsi sebagai hunian bagi lansia terlantar sekaligus mewadahi berbagai aktivitas pelayanan lansia yang melibatkan masyarakat, metode yang dilakukan adalah dengan melakukan kajian literatur terkait karakter lansia, tipologi bangunan untuk lansia beserta arahan desainnya, dan preseden bangunan. selain itu dilakukan survey lapangan pada panti werdha Dinas Sosial dan Swasta untuk melihat perilaku lansia dan mengumpulkan data bangunan serta sistem dari pengelola. Hasil kajian literatur yang berupa standar standar ideal kemudian dikompromikan dengan hasil temuan survey. dari proses tersebut ditemukan permasalahan arsitektural serta potensi inovasi yang mungkin diwadahi. Selanjutnya dilakukan eksplorasi desain terutama pada tata massa yang dapat memberikan privasi dan tata lansekap yang memberikan efek terapi serta sesuai dengan karakter lansia. Hasil rancangan berupa sebuah komplek bangunan yang mewadahi empat belas pelayanan lansia (Panti Werdha, Klinik Pratama Geriatri, Daycare Lansia, dan Edukasi Caregiver). Komplek bangunan dirancang dengan pendekatan taman Terapeutik sebagai upaya menghadirkan efek terapi untuk merespon kerentanan lansia pada banyak aspek. Panti Werdha memakai konsep wisma untuk memenuhi kebutuhan privasi lansia diruang dala. Tersedia tipe single, double, dan total care sebagai pilihan preferensi bagi lansia. Tata massa menerapkan prinsip hirarki dan sumbu, serta diintegrasikan dengan taman untuk menciptakan privasi diruang luar. Area lansekap dimaksimalkan untuk memberikan terapi melalui akses alam, kegiatan berkebun, dan stimulus multisensori yang dapat dinikmati dari ruang luar dan dalam. Jalur sirkulasi dengan material tidak licin dan lebar yang mengakomodinir alat bantu gerak lansia. Ruang ruang sosial yang terhubung dengan taman juga disediakan untuk mendorong lansia aktif bersosialisasi diruang luar. Dengan begitu, diharapkan komplek bangunan Pusat Pelayanan Lansia ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup lansia, baik yang menetap dalam panti maupun yang tidak menetap,.
Lansia atau Lanjut Usia adalah kelompok madyarakat berusia 60 tahun keatas dengan karakter fisik, psikis, dan sosial yang sangat khusus. lansia menjadi kelompok rentan yang membutuhkan dukungan dari masyarakat lain, terutama kelompok usia produktif, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. maka, peran masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup lansia menjadi penting. Namun, saat ini di Blitar masih ditemui banyak lansia terlantar, sedangkan kapasitas panti werdha yang tersedia belum bisa menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya suatu komplek bangunan pelayanan lansia yang berfungsi sebagai hunian bagi lansia terlantar sekaligus mewadahi berbagai aktivitas pelayanan lansia yang melibatkan masyarakat, metode yang dilakukan adalah dengan melakukan kajian literatur terkait karakter lansia, tipologi bangunan untuk lansia beserta arahan desainnya, dan preseden bangunan. selain itu dilakukan survey lapangan pada panti werdha Dinas Sosial dan Swasta untuk melihat perilaku lansia dan mengumpulkan data bangunan serta sistem dari pengelola. Hasil kajian literatur yang berupa standar standar ideal kemudian dikompromikan dengan hasil temuan survey. dari proses tersebut ditemukan permasalahan arsitektural serta potensi inovasi yang mungkin diwadahi. Selanjutnya dilakukan eksplorasi desain terutama pada tata massa yang dapat memberikan privasi dan tata lansekap yang memberikan efek terapi serta sesuai dengan karakter lansia. Hasil rancangan berupa sebuah komplek bangunan yang mewadahi empat belas pelayanan lansia (Panti Werdha, Klinik Pratama Geriatri, Daycare Lansia, dan Edukasi Caregiver). Komplek bangunan dirancang dengan pendekatan taman Terapeutik sebagai upaya menghadirkan efek terapi untuk merespon kerentanan lansia pada banyak aspek. Panti Werdha memakai konsep wisma untuk memenuhi kebutuhan privasi lansia diruang dala. Tersedia tipe single, double, dan total care sebagai pilihan preferensi bagi lansia. Tata massa menerapkan prinsip hirarki dan sumbu, serta diintegrasikan dengan taman untuk menciptakan privasi diruang luar. Area lansekap dimaksimalkan untuk memberikan terapi melalui akses alam, kegiatan berkebun, dan stimulus multisensori yang dapat dinikmati dari ruang luar dan dalam. Jalur sirkulasi dengan material tidak licin dan lebar yang mengakomodinir alat bantu gerak lansia. Ruang ruang sosial yang terhubung dengan taman juga disediakan untuk mendorong lansia aktif bersosialisasi diruang luar. Dengan begitu, diharapkan komplek bangunan Pusat Pelayanan Lansia ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup lansia, baik yang menetap dalam panti maupun yang tidak menetap,.

Description

Keywords

Citation

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By