Validitas Konvergen Sub-skala Anxiety, Somatic Symptoms, dan Repetitive Thoughts And Behaviors Pada DSM-5 Level 1 Cross-cutting Symptom Measure (CCSM)
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Alat skrining gangguan mental yang digunakan di Indonesia umumnya tidak menggunakan instrumen yang menyeluruh pada semua gangguan mental. Alat skrining gangguan mental sebaiknya bersifat menyeluruh dan alat tersebut hanya terdapat pada skala DSM-5 Level 1 Cross-Cutting Symptom Measure (CCSM). Pentingnya penggunaan skala DSM-5 Level 1 CCSM sebagai alat skrining akan membantu layanan psikologi di Indonesia. Namun, skala DSM-5 Level 1 CCSM tersebut belum divalidasi di Indonesia, sehingga skala DSM-5 Level 1 CCSM penting dilakukan divalidasi agar lebih meyakinkan untuk digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konvergen skala DSM-5 Level 1 CCSM khususnya sub-skala anxiety, somatic symptoms, dan repetitive thoughts and behaviors dengan skala lain yang memiliki konstruk yang sama. Sub-Skala Anxiety telah divalidasi dengan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Keduanya berkorelasi kuat (r=0.648), dan menunjukkan suatu konstruk yang sama (RMSEA=0.053; SRMR=0.028; CFI=0.983; AVE=0.554). Hasil skrining pada Sub-Skala Anxiety CCSM juga menunjukkan konvergensi dengan STAI (η2=0.190). Sub-Skala Somatic Symptoms CCSM telah divalidasi dengan Somatic Symptom Scale (SSS-8). Keduanya berkorelasi kuat (r=0.652), dan menunjukkan suatu konstruk yang sama (RMSEA=0.056; SRMR=0.028; CFI=0.978; AVE=0.540). Hasil skrining pada Sub-Skala Somatic Symptoms CCSM juga menunjukkan konvergensi dengan SSS-8 (τ=0.469). Sub-Skala Repetitive Thoughts and Behaviors telah divalidasi dengan Yale-Brown Obsessive Compulsive Scale (YBOCS). Keduanya berkorelasi kuat (r=0.644), dan menunjukkan suatu konstruk yang sama (RMSEA=0.067; SRMR=0.036; CFI=0.969; AVE=0.628). Hasil skrining pada Sub-Skala Repetitive Thoughts and Behaviors CCSM juga menunjukkan konvergensi dengan STAI (η2=0.217). Penelitian berikutnya, dapat melibatkan validator yang memiliki skor cut off yang jelas, divalidasi dengan diagnosis psikolog, dan meninjau ulang sistem skrining untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas.