Analisis Kebutuhan Lapis Tambah (Overlay) dengan Metode Lendutan dan Analisa Komponen
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Jalan merupakan sarana transportasi yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Banyak sekali manfaat dari jalan antara lain sebagai penunjang perekonomian masyarakat, sebagai sarana penunjang pembangunan di suatu daerah, sebagai sarana penghubung antar desa, kota, bahkan provinsi. Lapis tambah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan umur pelayananan jalan. Dalam penelitian kali ini, peneliti akan menghitung tebal lapis tambah/overlay perkerasan dengan menggunakan metode lendutan balik dan metode analisa komponen. Metode lendutan balik mengunakan hasil dari uji alat Benkelmen Beam untuk mengetahui lendutan langsung, sedangkan analisa komponen dengan mengunakan nilai California Bearing Rasio(CBR) lapangan dengan mengunakan uji Dynamic Core Penetrometer (DCP). Tujuan penelitian untuk mengetahui ketebalan lapis tambah/overlay pada ruas jalan Balong – Degolan. Material yang direncana digunakan aspal Laston MS 590. Penelitian ini mengunakan data lapangan yang berupa data sekunder yang didapat dari konsultan perencana (CV. Multi Citra Graha) yang meliputi data LHR, survay foto lokasi, uji Benklemen beam dan Uji California Bearing Rasio. Penelitian ini menghitung ketebalan lapis tambah/overlay dan membandingkan hasil yang didapat dari 2 metode tersebut dengan umur rencana 10 tahun. Didapat nilai CBR sebesar 5,0% sedangkan nilai lendutan langsung db sebesar 1,312 mm. Dengan LER sebesar 62,785 ESAL dan umur rencana yang sama dengan hitungan metode Analisa Komponen 1987 didapat nilai FR : 2,0, IP0 3,9-3,5, dan IPt : 1,5 dengan Nomogram 5 sebesar : 6,912 % menghasilkan nilai lapis tambah/overlay setebal 6 cm sedangkan dengan metode Lendutan Balik didapat nilai N : 13,58; CESA : 311208,40 ESAL; Dwakil : 1,312 mm; Drencana : 1,20 mm; Ho : 3 cm; Fo : 0,92; Ht : 3 cm menghasilkan tebal lapis tambah sebesar 4 cm (tebal minimal 4 cm), perbedaan disebabkan faktor nilai kumulatif beban lalulintas (CESA).