Analisis Kebijakan Kontra Terorisme Turki Terhadap Pemberontakan PKK (2015-2020) Ditinjau dari Counterinsurgency Theory
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Konflik antara pemerintah Turki dan PKK (Partiya Karkeren Kurdistan) telah
berlangsung selama beberapa dekade, dengan berbagai upaya penyelesaian yang telah
dilakukan, mulai dari negosiasi perdamaian hingga operasi militer. PKK adalah
kelompok teroris di wilayah Turki yang anggotanya terdiri dari etnis Kurdi dan berbasis
di wilayah tenggara Turki. Sejak awal, motif kebangkitan mereka adalah akibat
diskriminasi dan penindasan oleh pemerintah Turki terhadap etnis Kurdi di negara
tersebut. Tujuan utama PKK adalah menuntut otonomi wilayah. Sejak berakhirnya
gencatan senjata pada tahun 2015, pemerintah Turki telah mengintensifkan strategi
kontra terorisme untuk melawan PKK. Strategi ini mencakup operasi militer skala
besar di wilayah tenggara Turki, yang mayoritas penduduknya beretnis Kurdi. Penulis
menggunakan Counter-Insurgency Theory (COIN) yang disampaikan oleh David
Galula sebagai kerangka pemikiran dalam menganalisis konflik tersebut. Pemerintah
Turki mengimplementasikan strategi kontra terorisme yang intensif dan sesuai dengan
variabel-variabel dalam teori Counter-Insurgency. Operasi ini termasuk penyerangan
udara dan darat, serta penempatan unit statis untuk mengendalikan wilayah yang telah
dikuasai. Selain itu, Turki juga melakukan tindakan politik, seperti menangkap para
politikus yang diduga mendukung PKK. Strategi ini menunjukkan bagaimana teori
Counter-Insurgency dapat diterapkan dalam konteks nyata untuk menghadapi
kelompok pemberontak.