Strategi Komunikasi Kesehatan Puskesmas Ngaglik II Kabupaten Sleman dalam Kampanye Program Inspeksi Visual Asam Asetat untuk Pengurangan Risiko Kanker Leher Rahim
Files
Date
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Kanker serviks (leher rahim) merupakan salah satu penyakit yang menempati peringkat kedua penyebab kematian wanita di Indonesia. Untuk mengurangi risiko tersebut, diperlukan tindakan deteksi dini terhadap masyarakat yang berpotensi terpapar oleh kanker tersebut. Salah satu program yang dijalankan oleh pemerintah adalah Tes Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan salah satu cara guna mendeteksi secara dini ada atau tidaknya kanker serviks pada diri seseorang. Tes IVA merupakan program nasional yang dijalankan oleh Kementerian Kesehatan melalui Puskesmas. Penelitian ini mengungkap strategi komunikasi yang dijalankan oleh Puskesmas Ngaglik II, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mengkampanyekan program tes IVA serta untuk mengeksplorasi dan menjelaskan peluang dan hambatan yang dialami oleh instansi tersebut. Melalui pendekatan kualitatif lapangan, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Informan meliputi dua bidan desa yang mewakili Puskesmas serta tiga anggota masyarakat yang menjadi sasaran kampanye maupun yang telah mengikuti tes IVA. Observasi dilakukan terhadap lingkungan Puskesmas Ngaglik II; sedangkan studi dokumen dilakukan terhadap berbagai dokumen pendukung yang dapat melengkapi wawancara dan observasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi komunikasi Puskesmas Ngaglik II mencakup unsur: perencanaan berbasis penemuan fakta, penetapan tujuan, dan penentuan wanita usia subur sebagai target sasaran kampanye. Metode kampanye dilakukan meliputi penyuluhan langsung dan pemanfaatan media sosial yaitu WhatsApp, Facebook, Instagram, dan YouTube. Penelitian ini menemukan adanya peran aktif kader kesehatan di setiap padukuhan dalam proses penyebaran informasi kesehatan di wilayah kerjanya. Penelitian ini juga menemukan adanya kendala yang dihadapi oleh Puskesmas dalam program kampanye tersebit, meliputi rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan dana, serta kurangnya kolaborasi dengan para pemangku kepentingan di wilayah yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa strategi kampanye yang dilakukan oleh Puskemas Ngaglik II memiliki kesesuaian dengan perspektif komunikasi pemasaran sosial (social marketing). Kendati demikian, terdapat kelemahan pada aspek pendanaan dan koordinasi dengan pihak terkait. Penelitian ini menyarankan perlunya intensifikasi kampanye melalui kerjasama dengan pelbagai pemangku kepentingan terkait.