<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Menggagas Metodologi Pembelajaran Tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren (Kajian Penerapan Metode Pembelajaran Tafsir Al-Qur'an)

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Agama Islam adalah agama samawi, pemeluknya diberi pedoman kitab suci yang lebih dikenal dengan sebutan "Al-Qur'an". Al-Qur'an laksana kamus mini, dapat dibuka di mana saja dan kapan saja untuk dijadikan pedoman bagi manusia yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhiratnya. Namun Al-Qur'an tidak akan banyak memberikan arti manakala cukup disakralkan, tidak mau dikaji dan dipahaminya secara benar. Upaya memahami Al-Qur'an sering disebut "tafsir", atau "ta'wil". Dengan berusaha menafsirkan Al- Qur'an berarti telah menunjukkan ke jalan yang lurus dan membukakan pintu kebahagiaan bagi umat manusia. Karena itu prestasi mufassir patut mendapatkan penghargaan yang tinggi dan mulia Prestasi ini menuntut para mufassir untuk lebih hati-hati dalam menafsirkan Al-Qur'an dengan memperhatikan rambu-rambu dalam 'ulum Al-Qur'an agar tafsir yang dihasilkannya lebih sempurna dan benar. Sebab sangat memungkingkan kecenderungan seseorang untuk menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan kehendaknya sendiri. Sebagaimana kita pahami dalam sejarah tafsir Al-Qur'an telah muncul banyak berbagai aliran dan corak tafsir. Pondok pesantren adalah lembaga yang lekat dengan identitas keagamaan "tafaqquh fi ad-din", dan telah lama kiprahnya seiring dengan sejarah masuknya agama Islam ke Nusantara, terutama di pulau Jawa. Karena itu lembaga ini sering disebut sebagai lembaga yang unik dan diakui sebagai sistem pendidikan yang menampakkan keaslian (indigenous) Indonesianya Pondok pesantren telah tumbuh dan berkembang dengan pesat, sehinga melahirkan banyak macam dan tipenya Keberhasilannya juga telah banyak dirasakan bangsa Indonesia, karena banyak alumniya yang sukses berkiprah di masyarakat. Dalam hal ini karena telah menerapkan sistem pendidikan belajar tuntas dengan mengintegrasikan ilmu dan amal sesuai dengan konsep pendidikan modern yaitu mengembangkan kemampuan belajar untuk mengetahui (learning to know), melakukan sesuatu (lerning to do), untuk menjadi seseorang (learning to be) dan belajar untuk menjalani kehidupan bersama (learning to live together). Mata pelajarannya banyak mengambil dari kitab klasik (kuning) dengan menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran trade mark-nya seperti metode sorogan, bandongan dan lainnya dengan sistem Gramatical Translation Approach (pendekatan terjemah menurut tata bahasa), termasuk dalam pembelajaran Tafsir Al-Qur'an. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, seharusnya pondok pesantren lebih dekat dengan kajian-kajian tafsir dan 'ulum Al- Qur'an, tetapi kenyatannya justru banyak mengkaji kitab-kitab fiqih, sebagai ilmu terapan dalam banyak ajaran Islam yang secara instant dapat disuguhkan kepada masyarakat. Hal ini dapat dimengerti karena kelahiran pondok pesantren pada umumnya dari masyarakat sehingga tradisi keilmuannya banyak dipengaruhi pula oleh tradisi kemasyarakatan, termasuk dalam memposisikan Al-Qur'an sebagai kitab suci. Pondok pesantren menilai bahwa kajian-kajian terhadap Al-Qur'an sangatlah berat, sehingga porsi yang diberikan lebih sedikit dan kajiannya pun jarang yang menyentuh pada substansinya. Maka kitab tafair yang banyak dikaji dipondok pesantren adalah kitab tafar Jalalain yang pembahasannya sederhana dengan menggunakan metode tahlili (analisis). Di sini pondok pesantren yang memiliki banyak metode pembelajaran justru dalam penerapannya sering tergeser oleh tradisi keilmuan yang lebih mengakar, sehingga sikap kritis kreatif santri tidak dapat tumbuh dan berkembang dangam baik. Itulah sebabnya sedikit sekali muncul karya-karya tafsir dari pondok pesantren. Beberapa tradisi keilmua yang sering dipertahankan secara berlebihan itu misalnya doktrinasi istilah kitab-kitab mu'tabar (kitab yang dinilai dapat dipertanggung jawabkan), sistem immad ( perlunya kesinambungan sampai pada pengarangnya), sistem ijazah (restu dari guru untuk mengajar) dan pemahaman konsep tawadu". Karena itu untuk memunculkan karya-karya tafsir, maka pondok pesantren terlebih dahulu harus mengubah paradigma lama tradisi keilmuannya, kemudian mendekatkan kepada kajian-kajian Al-Qur'an melalui metodologi pembelajaran yang lebih tepat. Misalnya membuat kurikulum yang sistematis, mengkombinasikan beberapa metode yang dimiliki dan memilih metode tafsir Al-Qur' yang cukup tepat untuk menyentuh substansi isi Al-Qur'an, seperti melalui metode topikal (maudu'i). Dengan demikian teori yang dipakai tidak cukup pada satu teori, tetapi harus melangkah pada teori yang lebih inovatif Kedua teori tersebut adalah: (melestarikan teori lama yang masih baik dan mengambil teori baru yang lebih baik) dan (melestarikan teori fama yang masih baik dan membuat teori baru yang lebih baik).

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By