Penerapan Komunikasi Pemberdayaan pada Narapidana Rumah Tahanan Negara Kelas II B Kudus
| dc.Identifier.NIM | 19321261 | |
| dc.contributor.author | Permata, Nabilla Dyah | |
| dc.date.accessioned | 2024-01-19T06:30:14Z | |
| dc.date.available | 2024-01-19T06:30:14Z | |
| dc.date.issued | 2023 | |
| dc.description.abstract | Narapidana dalam rumah tahanan dapat merasakan rasa cemas saat hendak keluar dari tahanan. Rasa cemas demikian bisa dikelola melalui program pemberdayaan yang proaktif dari pihak rumah tahanan. Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kab. Kudus merupakan salah satu yang menerapkan program pemberdayaan narapidana, seperti pelatihan pembuatan kue tradisional dan keset kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pemberdayaan narapidana oleh Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kab. Kudus, melihat tanggapan narapidana terkait program pemberdayaan, dan mengkaji faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi program pemberdayaan narapidana Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kudus. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi pemberdayaan. Untuk metode penelitiannya, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan datanya berupa teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan model interaktif analisis. Setelah melakukan penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa proses pemberdayaan di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kab. Kudus dilakukan dengan menerapkan komunikasi pemberdayaan yang berisi unsur komunikator, pesan, komunikan, dan umpan balik atau feedback. Komunikasi pemberdayaan tersebut berupa arahan dari komunikator mengenai tahapan pembuatan kue gapit tradisional dan keset. Dalam proses komunikasi pemberdayaan yang berlangsung, ada timbal balik dari narapidana kepada komunikator sebagai bentuk respon atas pesan yang disampaikan. Terakhir, hasil analisa SWOT program pemberdayaan di Rumah Tahanan Kelas IIB Kab. Kudus menunjukkan strength berupa adanya komunikasi dua arah, weakness berupa sedikitnya jumlah komunikator yang berperan, opportunities berupa adanya kesempatan kolaborasi dengan pihak Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus, dan threats berupa kekeliruan informasi mengenai cara pembuatan produk karena komunikator bukan ekspertisnya. Faktor pendukung dalam kegiatan komunikasi pada program pemberdayaan tersebut diantaranya adalah jumlah peserta sedikit dan berupa kelompok kecil sehingga komunikasi lebih jelas sehingga mudah membangun keakraban, dan tidak perlu mencari tenaga pelatih banyak. Faktor hambatan pada komunikasi tersebut adalah komunikator membagi fokus untuk 8 - 11 orang sekaligus, kemampuan masing2 narapidana berbeda, narapidana tidak dapat menjual sendiri produknya, dibatasi hukum, dan tidak didukung dengan proyektor ketika melakukan komunikasi. | en_US |
| dc.identifier.uri | repository.uii.ac.id/handle/123456789/46801 | |
| dc.publisher | Universitas Islam Indonesia | en_US |
| dc.subject | Narapidana | en_US |
| dc.subject | Rumah Tahanan | en_US |
| dc.subject | Pemberdayaan | en_US |
| dc.subject | Komunikasi | en_US |
| dc.title | Penerapan Komunikasi Pemberdayaan pada Narapidana Rumah Tahanan Negara Kelas II B Kudus | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |