Pengaruh Penataan Ruang Dalam Pasar Terhadap Kenyamanan Sirkulasi Pengguna Studi Kasus Di Pasar Sentul Yogyakarta
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Pasar Sentul, merupakan salah satu pasar tradisional di Yogyakarta berada di Kecamatan Pakualaman. Berdiri pada tahun 1975 dimana saat itu merupakan pasar rakyat dan seiring berjalannya waktu pada tabun 1985 mengalami renovasi berupa pengembangan pasar. Saat ini, pasar Sentul sebagai pasar tradisional terdapat beberapa fenomena yang mengganggu bagi pengguna pasar pada beberapa jalur sirkulasi dalam pasar Sentul. Sehingga jumlah pedagang melebihi kapasitas luasan pasar Sentul. Mereka memaksakan berjalan di dalam, sehingga meletakkan dagangannya di jalur sirkulasi. Terutama pada jalur sirkulasi tertentu pada pasar Sentul yang terdapat pedagang yang tidak menyewa kios/los jualan. Pada area Pintu Masuk ( Zona A ) para pedagang ini berjualan dengan menggelar barang dagangannya di sepanjang pintu, letaknya di bahu jalan sirkulasi utama pasal yang hanya selehar 3 meter. Perilaku mereka tersebut menimbulkan fenomena yang menghambat sirkulasi masuk ke dalam pasar, sehingga lebar yg digunakan bagi pengguna pasar otomatis berkurang menjadi 1,2 meter bagi arus sirkulasi utama. Pada area Pedagang Kelontong ( Zona B ) terjadi fenomena dimana para pedagang pasar yang memiliki los berdagang menempatkan barang dagangan di depan los mereka yang seharusnya berfungsi sebagai sirkulasi dalam pasar. Sehingga para pengguna pasar bila berjalan saling bergantian lewat, saling. menunggu. Kemudian, pada area Pedagang Basah ( zona C ) terdapat perilaku pedagang baru yang tidak mendapat tempat los jualan, berdagang di luar los pedagang basah. Dimana mereka berdagang tepat di dalam jalur sirkulasi utama pasar. Rekomendasi yang dapat diberikan berupa mengurangi masalah pada jalur sirkulasi yaitu : a. Mengatur lebar selasar pada beberapa jalur sirkulasi untuk mendapatkan kenyamanan pengguna. b. Mengatur kembali bentuk dan dimensi los daIam pasar. Baik pada los pedagang kering ( kelontong, hasil bumi, dll ) dan pada los pedagang basah ( daging sapi/ayam/kambing, dan ikan ).