Design Of Transit Hotel At Kulon Progo Aerotropolis Area With Green Building Approach
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Pengembangan wilayah Kecamatan Temon di Kabupaten Kulon Progo, DIY, menjadi daerah yang dinamakan kawasan Aerotropolis bermanfaat untuk membawa dampak ekonomi dan menjadi daya tarik pariwisata di wilayah DIY. Dalam hal ini, Bandara Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport merupakan pintu masuk utama ke Provinsi DIY. Sejak mulai beroperasi pada tahun 2020, Bandara YIA telah mengalami kenaikan jumlah penumpang setiap tahunnya. Kebutuhan hotel transit ini didasarkan pada traffic kedatangan wisatawan di YIA yang mengalami kenaikan tiap tahunnya pasca operasional bandara pada . Pada tahun 2023, jumlah kedatangan penumpang di Bandara YIA mencapai 4.307.742, naik 46% dibandingkan pada tahun 2022. Dengan jumlah kamar hotel yang tersedia dan tingkat okupansi yang tinggi pada saat musim liburan, kebutuhan kamar hotel menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Setiap tahun, rata-rata jumlah penumpang di Bandara YIA sebesar 1,9 juta penumpang (BPS) dengan jumlah penumpang sebanyak rata-rata 5200 orang per hari (BPS )dan rata-rata penumpang transit sebesar 2750 orang per tahunnya. Berdasarkan proyeksi jumlah penumpang yang datang Bandara YIA pada tahun 2033 lewat data BPS, jumlah kedatangan penumpang mencapai 6.500.200, meski demikian, jumlah tersebut tidak diimbangi dengan jumlah pengguna hotel transit diprediksi mencapai 34.450 orang dengan jumlah 17.810 penumpang yang transit per harinya. Meski demikian, jumlah penumpang yang banyak tersebut tidak diimbangi dengan jumlah kamar yang dibutuhkan dengan jumlah penumpang yang menginap sebesar 4% dari total 837 kamar hotel berbintang di Aerotropolis Kulon Progo. Oleh karena itu, perlu adanya hotel transit yang dapat menyediakan kamar untuk kebutuhan selama 10 tahun mendatang. erdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 1164 Tahun 2013 yang telah menetapkan lokasi Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, aerotropolis merupakan pembangunan perkotaan yang didorong oleh kemajuan teknologi dengan memanfaatkan keunggulan bandar udara dan sekitarnya sebagai pusat transportasi udara. Meski demikian Meningkatnya pemanasan global disebabkan oleh adanya Urban Heat Islands (UHI). Fenomena Urban Heat Island diartikan sebagai kondisi iklim mikro di perkotaan yang lebih hangat dibandingkan desa di sekitarnya. Sehingga dari hal itu, pengembangan aerotropolis Yogyakarta international airport berpotensi memunculkan urban heat island. Aspek ini termasuk pada konversi lahan, berkurangnya area hijau, kepadatan area yang dibangun, material atap, dan ketinggian bangunan yang berpotensi meningkatkan resiko Urban heat Island. Pengembangan aerotropolis YIA juga berpotens mengambil alih fungsi lahan seperti persawahan dan area hijau lainnya untuk menjadi bangunan tempat tinggal, industri, dan ruang publik. Aktivitas Land Use-Land Change (LULC) ini lah yang dapat meningkatkan Urban Heat Island di wilayah DIY setiap tahun. Dari isu tersebut maka perancangan hotel transit dengan pendekatan yang merespon lingkungan adalah melalui konsep Green Building mengingat hotel ini dibangun secara terintegrasi dengan terminal bandara YIA yang juga dibangun lewat Green Building. Rancangan hotel ini menghasilkan bangunan hotel dengan 154 kamar di atas site seluas 3500 m2 dan luas bangunan seluas 4172 m2. Dengan ketercapaian aspek green building berupa ASD, IHC, dan EEC dan payback period selama 14,2 tahun.