<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali dalam Perspektif Progressivisme

dc.Identifier.NIM970002
dc.contributor.authorAsiah, Nur
dc.date.accessioned2026-04-16T08:37:59Z
dc.date.available2026-04-16T08:37:59Z
dc.date.issued2000
dc.description.abstractPada dasarnya, karakteristik pendidikan yang ditawarkan al-gazali lebih menitkberatkan pada pendidikan di bidang akhlak. Artinya, baik pendidik maupun anak didik harus menjadikan faktor akhlak sebagai landasan utama untuk menegakkan sendi-sendi dalam pendidikan Islam. Pendidikan agama adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, ia mempunyai peranan penting dalam konsepsi pendidikan al-Gazali, karena itulah model pendidikan yang ditawarkannya sangat bernuansa teosentris. Bagi al-Gazali, hati adalah cermin. Oleh karena itu, baik itu pendidik, anak didik dan bahkan lembaga sekolah harus menjadi cermin bagi Lainnya, inilah yang dinamakan akhlak atau suri tauladan. Sedangkan bagi progressivisme, faktor kecerdasan menempati peranan penting dalam konsep pendidikannya. Seorang pendidik dan anak didik harus bersifat progresif, futuristik dan humanis, artinya, ia harus mempunyai jiwa semangat pembaharuan, cenderung aktif-kreatif, mempunyai pandangan jauh ke depan dan mengangkat harkat manusia ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Tetapi khusus bagian terakhir, harkat lebih mengacu kepada tingkat pengoptimalan kecerdasan manusia yang menempatkan akal pada posisi bahwa penghargaan tertinggi manusia terletak pada tingkat kecerdasan dan kreativitasnya. Secara garis besar, pendidikan yang ditawarkan al-Gazali jika dilihat dari sudut pandang progresivisme adalah model pendidikan yang menitikberatkan pada pendidikan akhlak dan kemampuan penguasaan ilmuanya didasarkan pada hafalan saja. Bagi progresivisme, cara sepeti ini akan membuat anak didik hanya terfokus pada ajaran yang dihafalkannya dan tidak mampu memahami dan mengerti pengetahuan lainnya. Di sinilah peran pendidik (guru) sebenarnya sedang diuji dan dibuktikan. Mereka para pendidik dituntut untuk tidak memonopoli dalam pengertian mendoktrinasi anak didik dalam mengekspresikan kreasinya, oleh karena itu tugas mereka adalah membimbing dan tidak menunjuk atau mendikte. Sedangkan lembaga sekolah menempatkan diri sebagai potner kerja, termasuk di dalamnya unsur pendidik dan kurikulumnya. Dengan demikian, maka harus ada kerjasama antara pendidik, anak didik dan lembaga sekolah yang termasuk di dalamnya kurikulum pendidikan itu sendiri. Dengan cara inilah maka pendidikan yang ideal dapat diwujudkan, karena masing-masing unsur di dalam pendidikan harusnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait erat satu sama lain.en_US
dc.identifier.urihttps://repository.uii.ac.id/handle/123456789/61663
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKonsep Pendidikanen_US
dc.subjectAl-Ghazalien_US
dc.subjectPerspektif Progressivismeen_US
dc.titleKonsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali dalam Perspektif Progressivismeen_US
dc.typeThesisen_US

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
970002.pdf
Size:
3.84 MB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: