Evaluasi Kerentanan Bangunan Rumah Tinggal Sederhana Menggunakan Fitur Acebs dan Tingkat Pemahaman Penghuni Terhadap Bangunan Tahan Gempa (Studi Kasus: Desa Tangguh Bencana, Kabupaten Bantul)
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Terletak diantara tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia, lempeng pasifik dan lempeng indo-
australia sehingga memberikan kontribusi sebesar 90% dari kejadian-kejadian gempa bumi di
Indonesia. Penelitian ini fokus pada kerentanan bangunan rumah tinggal sederhana satu lantai tipikal
tembokan dan pemahaman penghuni terhadap bangunan tahan gempa. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengukur tingkat kerentanan bangunan terhadap gempa bumi dan mengukur tingkat
pemahaman penghuni bangunan rumah tinggal tersebut terhadap bangunan tahan gempa. Penelitian
ini dilakukan di tiga lokasi yang memiliki predikat Desa Tangguh Bencana (DESTANA) dengan
tingkat ancaman gempa yang berbeda-beda, yaitu Dusun Gersik dengan tingkat ancaman gempa
tinggi, Dusun Kergan ancaman sedang dan Dusun Bongsren tingkat ancaman rendah. Metodologi
penelitian yang digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman penghuni adalah dengan kuesioner
tertutup yang mengacu pada parameter-parameter ACeBS dan pedoman konstruksi bangunan
sederhana PUPR. Sedangkan untuk mengukur tingkat kerentanan bangunan digunakan Fitur ACeBS
(Asesmen Cepat Bangunan Sederhana) yang dikembangkan oleh BNPB bekerjasama dengan
Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi. Analisis data kerentanan bangunan didapatkan berdasarkan pada
skor penilaian dashboard InaRISK Personal sedangkan pada tingkat pemahaman penghuni
dilakukan perhitungan statistik yang diperoleh dengan menjumlahkan seluruh indeks sesuai dengan
bobot masing-masing tanggapan/jawaban.
Berdasarkan hasil penelitian tingkat kerentanan bangunan di Dusun Gersik memiliki hasil
sebesar 80% rendah, 15% sedang, dan 5% bangunan dengan tingkat kerentanan tinggi. Lalu, pada
Dusun Kergan 35% rendah, 60% sedang, dan 5% bangunan dengan tingkat kerentanan tinggi.
Sedangkan pada Dusun Bongsren hasilnya adalah 65% rendah dan 35% dengan tingkat kerentanan
sedang. Kemudian hasil tingkat pemahaman penghuni mengenai bangunan tahan gempa di Dusun
Gersik terdiri dari 60% sangat paham, 10% paham, 25% cukup paham, 0% kurang paham, dan 5%
kurang paham. Lalu, Dusun Kergan terdapat sebanyak 25% penghuni dusun kergan sangat paham
mengenai bangunan tahan gempa, 35% penghuni paham, 20% penghuni cukup paham, 15%
penghuni kurang paham, dan 5% penghuni tidak paham. Sedangkan pada Dusun Bongsren
didapatkan data bahwa 35% penghuni sangat paham mengenai bangunan tahan gempa. 30%
penghuni paham, 25% penghuni cukup paham, 0% penghuni kurang paham, dan 10% penghuni
paham mengenai bangunan tahan gempa. Jika dilihat dari hubungan antara kerentanan bangunan
dan pemahaman penghuni, ditemukan adanya variabel kontrol yang menyebabkan naik dan
turunnya tingkat kerentanan bangunan dan pemahaman penghuni yaitu program Java Construction
Fund (JRF) yang memberikan bantuan terhadap beberapa bangunan rumah tinggal untuk
membangun rumah dengan prinsip bangunan tahan gempa sekaligus memberikan sosialisasi
ataupun pengetahuan secara langsung kepada penghuni bangunan tersebut. Sedangkan jika melihat
hubungan tersebut dengan menggunakan regresi linier sederhana, koefisien korelasi dan determinasi
pemahaman penghuni tidak berpengaruh signifikan terhadap naik turunnya tingkat kerentanan
bangunan. Dilihat dari hubungan tersebut maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah untuk
menanamkan norma injungtif atau perintah kepada penghuni bangunan.