<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Evaluasi Kinerja Perkerasan Jalan Baru dengan Pendekatan Elastik dan Viskoelastik pada Jalan Tawang-ngalang

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu daerah yang sering dijadikan sebagai tujuan wisata utama ketika berwisata di Yogyakarta. Meningkatnya jumlah wisatawan setiap tahun dapat menyebabkan potensi kemacetan pada ruas jalan menuju Kabupaten Gunungkidul yakni ruas Jalan Piyungan-Patuk. Oleh karena itu, untuk mengatasi potensi kemacetan maka dibangun ruas jalan Tawang-Ngalang sebagai jalan alternatif yang menghubungkan kabupaten Gunungkidul dengan Kabupaten Sleman melalui sisi utara. Jalan Tawang-Ngalang telah diresmikan pada Januari 2024 yang terdiri dari lima segmen. Namun, jalan tersebut mengalami kerusakan dini di segmen II dan segmen III pada masa awal layannya. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja struktur perkerasan eksisting dan memberikan desain perkerasan alternatif yang dianalisis menggunakan KENPAVE secara elastik dan viskoelastik untuk mengetahui nilai umur sisa pelayanannya. Data sekunder yang digunakan pada penelitian diperoleh dari Dinas PUP ESDM DIY dan BBPJN DIY-Jateng. Penelitian ini menggunakan data ketebalan struktur perkerasan eksisting dan mendesain ulang struktur perkerasan dengan menggunakan metode AASHTO 1993 serta memberikan tebal alternatif yang dievaluasi dengan program KENPAVE secara elastik dan viskoleastik untuk mendapatkan nilai regangan dan tegangan akibat suatu pembebanan sehingga diperoleh nilai repetisi beban izin pada masing-masing jenis kerusakan yang akan terjadi. Selain itu, nilai regangan tersebut juga digunakan untuk memprediksi nilai sisa umur layan perkerasan. Hasil penelitian diperoleh nilai lalu lintas selama umur rencana yaitu sebesar 33.106.914,4648 ESAL dan pada metode AASHTO 1993 dihasilkan tebal perkerasan dengan lapis surface setebal 21 cm, lapis base dengan material ATB setebal 5 cm, dan lapis subbase setebal 19 cm. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan program KENPAVE diketahui bahwa struktur perkerasan yang di analisis dengan pendekatan elastik memberikan hasil umur layan yang lebih panjang daripada struktur perkerasan yang dianalisis secara viskoelastik. Pada struktur perkerasan eksisting tidak mampu menahan repetisi beban selama umur rencana. Sedangkan pada struktur perkerasan metode AASHTO 1993 hanya mampu menahan kerusakan rutting. Struktur perkerasan alternatif merupakan struktur perkerasan dengan total ketebalan sebesar 64 cm yang mampu menahan repetisi beban selama umur rencananya tanpa mengalami kerusakan seperti fatigue cracking, rutting, dan permanent deformation. Perbedaan nilai sisa umur yang diperoleh dapat disebabkan oleh perbedaan penggunaan jenis material dan ketebalan struktur perkerasan.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By