Pengembangan Model Ensemble Stacking Untuk Klasifikasi Serangan Distributed Denial Of Service
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Serangan Distributed Denial of Service (DDoS) merupakan salah satu bentuk ancaman
siber yang umum terjadi dan berdampak serius karena dapat melumpuhkan layanan jaringan
dengan membanjiri lalu lintas dari berbagai sumber secara bersamaan. Kompleksitas dan
variasi serangan ini menjadikan proses deteksi semakin menantang, terutama dalam konteks
klasifikasi multiclass yang menuntut identifikasi jenis serangan secara spesifik. Penelitian ini
bertujuan untuk membangun model klasifikasi serangan DDoS berbasis ensemble learning
dengan pendekatan stacking, untuk meningkatkan akurasi dan ketahanan model klasifikasi.
Dataset CIC-DDoS2019 digunakan karena memuat beragam jenis serangan DDoS dan lalu
lintas normal. Proses penelitian mencakup tahapan pengumpulan data, analisis data eksploratif,
pembersihan data, transformasi label, pembagian data latih dan uji, penskalaan data, serta
seleksi fitur. Delapan algoritma machine learning diuji, meliputi Naïve Bayes, K-Nearest
Neighbors, Support Vector Machine, Logistic Regression, Decision Tree, Random Forest,
AdaBoost, dan XGBoost. Model stacking dalam penelitian ini mengadopsi dan mengevaluasi
empat kombinasi base learner dan meta learner yang diadaptasi dari studi sebelumnya, serta
satu kombinasi model stacking yang diusulkan oleh peneliti berdasarkan analisis performa
model individual. Model stacking yang diusulkan oleh peneliti menggabungkan Random
Forest, AdaBoost, XGBoost, dan Decision Tree sebagai base learner, dengan Logistic
Regression sebagai meta learner. Evaluasi model dilakukan berdasarkan metrik accuracy,
precision, recall, f1-score, ROC-AUC, dan inference time. Hasil eksperimen menunjukkan
bahwa model stacking yang diusulkan peneliti mampu mencapai accuracy hingga 0,7965 dan
nilai AUC sebesar 0,9832, serta mengungguli sebagian besar model individual dalam hal
accuracy, precision, recall, f1-score, dan nilai AUC. Namun demikian, model ini memiliki
waktu inference yang relatif tinggi, sehingga meskipun efektif dalam meningkatkan accuracy
klasifikasi serangan DDoS perlu mempertimbangkan efisiensi komputasi secara lebih lanjut.