Penerapan Building Information Modeling (BIM) dalam Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Extended Aeration Berkapasitas 500 M3 /hari Menggunakan Revit
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Pekerjaan konstruksi di Indonesia telah mengalami perkembangan pesat,
terutama dengan adanya prioritas pemerintah dalam pengembangan infrastruktur.
Namun, industri konstruksi masih dihadapkan pada tantangan produktivitas yang
rendah dan koordinasi desain yang kompleks antara pemangku kepentingan, yang
mempengaruhi kualitas dan profitabilitas. Building Information Modeling (BIM)
merupakan solusi yang menjanjikan untuk meningkatkan efisiensi, kolaborasi, dan
kualitas dalam proyek konstruksi. Namun, penerapan BIM di Indonesia masih
terbatas, khususnya dalam sektor air, yang mengakibatkan kurangnya optimalisasi
proses konstruksi dan biaya yang tidak stabil. Penelitian ini bertujuan untuk
merancang model Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan menerapkan
konsep Building Information Modeling (BIM) dan menganalisis perbandingan Bill
of Quantities (BOQ) antara metode konvensional dan metode berbasis BIM.
Metode penelitian ini mencakup studi literatur, melakukan desain IPAL, pemodelan
3D menggunakan Autodesk Revit 2024, dan perhitungan BOQ dengan metode BIM
dan konvensional. Analisis dilakukan untuk membandingkan hasil BOQ dari kedua
pendekatan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan Autodesk
Revit 2024 dalam pemodelan IPAL memfasilitasi pengelompokan dan integrasi
informasi arsitektural, struktural, dan mechanical, electrical, and plumbing (MEP)
dalam satu model, meningkatkan efisiensi material dan mengurangi pemborosan.
Model BIM mendukung visualisasi yang lebih akurat, membantu pengambilan
keputusan dalam konstruksi. Perbandingan BOQ antara metode konvensional dan
BIM menunjukkan perbedaan volume yang tidak signifikan, dengan selisih 6,39 m3
pada pekerjaan struktural dan selisih panjang 16,13 m pada perpipaan, yang
diakibatkan oleh perbedaan asumsi perhitungan. Secara keseluruhan, BIM
mendukung konstruksi ramping dengan pengelolaan material yang lebih efisien.