<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Pemantauan Clinical Outcome Penggunaan Obat pada Pasien Terdiagnosis Artritis Reumatoid di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Latar belakang: : Artritis reumatoid (AR) memiliki angka prevalensi tinggi di Indonesia dengan tingkat remisi yang rendah. Oleh karena itu pentingnya dilakukan penelitian untuk memantau clinical outcome penggunaan obat pada pasien AR. Tujuan: Menganalisis profil regimen pengobatan, clinical outcome penggunaan obat antiartritis reumatoid dan faktor yang memengaruhinya, serta potensi interaksi obat. Metode: Penelitian cross-sectional retrospektif pada rekam medis pasien AR periode 2020–2025. Penilaian clinical outcome berdasarkan efektivitas terapi obat (DAS28 dan LED), serta kejadian ROTD. Analisis data menggunakan uji Chi square untuk menganalisis hubungan karakteristik pasien dengan clinical outcome. Sementara itu, uji regresi logistik untuk menganalisis karakteristik pasien yang paling berpengaruh terhadap clinical outcome. Kajian potensi interaksi obat kategori mayor menggunakan drugs.com dan Lexidrug. Hasil: Sebanyak 196 pasien AR dianalisis dengan 78,6% mencapai efektivitas terapi dan 61,2% mengalami ROTD. Regimen tunggal metotreksat paling banyak diresepkan (12,7%) dengan tingkat efektivitas tinggi (92%). Regimen terapi tunggal lebih memengaruhi efektivitas terapi dibandingkan kombinasi (OR 6,569; CI 1,356–52,839). Kejadian ROTD secara signifikan dipengaruhi oleh komorbiditas (OR 0,479; CI 0,245–0,923), pemberian regimen terapi tunggal (OR 5,238; CI 1,731–17,124), dan kejadian potensi interaksi obat (OR 2,607; CI 1,084–6,895). Peningkatan tekanan darah menjadi ROTD yang paling sering dikaitkan dengan terapi cDMARD (6,8%). Potensi interaksi obat ditemukan pada 251 kasus dengan potensi paling banyak terjadi pada kombinasi metotreksat dan lansoprazol (25,1%). Kesimpulan: Mayoritas pasien mencapai efektivitas terapi dengan kejadian ROTD lebih dari 50%. Sehingga, perlu dilakukan pemantauan tekanan darah lebih intensif, terutama pada pasien dengan komorbiditas dan regimen terapi kombinasi.

Description

Citation

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By