<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Konsep Pendidikan Islam (Studi Pemikiran Pendidikan Syed Muhammad Naquib Al-Attas)

Loading...
Thumbnail Image

Date

Authors

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Tesis ini merupakan kajian pokok yang memfokuskan pada pemikiran pendidikan Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Permasalahan yang ingin dijawab adalah: Bagaimana konsep pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas? Bagaimana corak pemikiran pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas? Dan akhirnya bagaimana implikasi dan aktualisasi konsep pendidikan Islam yang diformulasikan olch Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam konsep pendidikan Islam masa kini? Al-attas mengajukan sebuah tesis yang cukup mengejutkan di kalangan pakar pendidikan Islam bahwa istilah yang proporsional untuk menunjuk arti pendidikan Islam adalah ta dib, bukan tarbiyah dan alim. Hal tersebut, dalihnya didasarkan pada prinsip bahwa dalam struktur konseptualnya, 'dib sudah mencakup unsur- unsur pengetahuan (lm), pengajarse (talis), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Di samping itu, tegas al-Attas, sejak periode paling awal dalam sejarah Islam, konsep ilmu dan amal. Inti dari konsep al-Attas adalah bahwa hakekat pendidikan Islam adalah tu dib, yakni penanaman adab itu sendiri pada manusia. Penekanan, stressing pada adab yang mencakup pada amal dilam pendidikan dan proses pendidikan, dimaksudkan agar jaminan bahwa ilmu dipergunakan secara baik dan demi kemaslahatan di masyarakat, bukan sebaliknya untuk merusak dan menimbulkan madhara, pada gilirannya, al-Attas mengingatkan akan munculnya beberapa akibat serius sebagai konsekwensi logis dan tidak dipedulikannya esensi konsep Ta'dib sebagai pendidikan dan proses pendidikan. Akibat pertama, terjadinya kebingungan dan kesalahan dalam ilmu pengetahuan yang pada gilinanya menoiptakan dalam ummat. Kondisi yang di kedua yakni hilangnya adab timbul akibat yang pertama dan kedua adalah: ketiga, bangkitnya pemimpin-pemimpin yang tidak memenuhi syarat kepemimpinan yang syah dalam ummat Islam, karena tidak memiliki standar-standar moral, intelektual, dan spiritual yang tinggi, yang dibutuhkan bagi kepemimpinan. Al-Attas memformulasi tujuan pendidikan Islam, yaitu menghasilkan manusia yang baik, bukan menghasilkan warga negara yang baik, seperti dalam peradaban barat. "Baik dalam konsep manusia yang baik, berarti tepat sebagai manusia adab, yakni meliputi kehidupan material dan spiritual manusia. Dari formulasi tujuan pendidikan Islam ini, dapat dipahami, bahwa al-Attas mengendaki agar dengan pendidikan Islam akan terwujud manusia sempurna, Insan Kamil. Selanjutnya, tentang sistem pendidikan Islam, al-Attas menghendaki terealisasinya sistem pendidikan terpadu, tidak dikotomis. Ini tampak sangat jelas dalam konsepnya untuk mengeintegrasikan ilmu dalam sistem pendidikan Islam, artinya pendidikan Islam harus menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya tidak hanya dalam ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis. Meskipun al-Attas menghendaki keterpaduan dan equilibrium ilmu agama dan ilmu umum dalam paradigma pendidikannya, namun dapat dilacak bahwa corak pemikiran dan orientasi pendidikan mengarah pada pendidikan yang kental dan berwarna moral religius. Dalam konteks dunia pendidikan Islam masa kini, yang secara makro tengah dilanda krisis, yang disebabkan oleh faktor interen (SDM umat Muslim) maupun faktor eksteren (hegemoni peradaban Barat), maka peneliti menegaskan bahwa pemikiran pendidikan al-Attas memiliki relefansi dan aktualisasi yang signifikan dalam rangka memberikan kontribusi bagi upaya memecakan problematika pendidikan Islam, baik pada dataran teoritik-paradikmatik maupun praktik- implementatif.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By