<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Prarancangan Pabrik Asam Borat dari Boraks Dengan Kapasitas 45.000 Ton/tahun Prarancangan Pabrik

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Asam borat biasa digunakan dalam industri kimia, keramik, farmasi, pulp, kaca, dan lain-lain. Saat ini, belum ada pabrik yang memproduksi asam borat di Indonesia. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan asam borat dalam negeri, Indonesia masih bergantung pada kegiatan impor. Berdasarkan data Biro Pusat Statistika, kebutuhan asam borat di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Oleh karena itu, perlu dibangun pabrik Asam Borat dengan bahan baku Boraks dan Asam Sulfat yang memiliki kapasitas 45.000 ton/tahun di Kabupaten Gresik, Jawa Timur dengan luas total 36.200 m2

. Perancangan dilakukan untuk rencana pendirian pada tahun 2030, sehingga penyesuaian biaya dilakukan menggunakan Chemical Engineering Plant Cost Index (CEPCI). Pabrik beroperasi selama 330 hari dalam setahun dan membutuhkan 110 karyawan. Proses produksi Asam Borat ini dilakukan dengan menggunakan proses Reaksi Asidifikasi yaitu dengan cara mereaksikan Boraks dengan Asam Sulfat. Boraks yang berbentuk granular diumpankan dari Silo (SL-01) menuju Mixer (M-01) untuk dilarutkan dengan air, sehingga terbentuk larutan boraks. Larutan boraks bereaksi dengan Asam Sulfat di dalam reaktor alir tangki berpengaduk (R-01) yang dilanjutkan di R-02, dioperasikan pada suhu 90 °C dan tekanan 1 atm. Hasil reaksi pada keluaran R-02 berupa Asam Borat, Natrium sulfat, dan air. Larutan Asam Borat kemudian akan dikristalkan dalam Crystallizer (K-01) lalu di pisahkan dari larutan induknya menggunankan Centrifuge (CF-01) agar didapatkan kristal Asam Borat yang lebih murni. Larutan induk hasil keluaran Centrifuge akan diolah lebih lanjut di unit pengolahan limbah (UPL). Sedangkan, kristal Asam Borat yang diperoleh diumpankan menuju alat Rotary Dryer (RD-01) untuk mengurangi kadar air di dalamnya, sehingga diperoleh produk yang sudah kering. Untuk mencapai kapasitas produksi 45.000 ton/tahun dibutuhkan bahan baku Boraks sebanyak 76.200 ton/tahun dan Asam Sulfat sebanyak 19.050 ton/tahun. Utilitas yang dibutuhkan yaitu air sebesar 668.548 ton/tahun yang diperoleh darisungai Bengawan Solo serta kebutuhan listrik sebesar 921 kWh yang diperoleh dari PLN. Pabrik Asam Borat ini memiliki tingkat resiko rendah (low risk) yang dianalisis melalui beberapa parameter. Hasil analisis ekonomi menunjukkan pabrik ini menghasilkan keuntungan setelah pajak sebesar Rp201.839.298.678 dengan Return On Investment (ROI) setelah pajak sebesar 23,59%, Pay Out Time (POT) setelah pajak 3,1 tahun, Break Even Point (BEP) sebesar 56,54%, Shut Down Point (SDP)sebesar 38,57%, dan Discounted Cash Flow Return (DCFR) sebesar 8,25%. Berdasarkan hasil evaluasi ekonomi ini, dapat disimpulkan bahwa pabrik Boric Acid ini layak untuk didirikan.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By