<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Evaluasi Program Sosialisasi Bagi Anak Autisme

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi program sosialisasi bagi anak autisme. Subjek dalam penelitian ini ialah anak autisme dengan usia empat hingga sepuluh tahun, yang mendapatkan pendidikan selama dua hingga tiga tahun di dua sekolah khusus autisme. Program pendidikan yang terdapat di kedua sekolah tersebut ialah program bina diri, program akademik, program sensomotorik serta program sosialisasi. Subjek tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Informan dalam penelitian ini ialah kepala sekolah, guru pendamping, orang tua, serta para guru. Pada penelitian ini, peneliti melakukan observasi tanpa peran dan dilakukan dengan latar alamiah. Subjek wawancara ialah orang tua anak autisme, guru-guru di dua sekolah khusus autisme, serta kepala sekolah masing-masing. Wawancara dilakukan secara informal dan menggunakan petunjuk umum wawancara. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis tematik yaitu proses mengkode informasi, yang menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang terkait dengan tema ini, atau gabungan dari yang telah disebutkan. Hasil observasi dan wawancara di lapangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemajuan perkembangan pada keempat subjek dari dua sekolah yang menerapkan program sosialisasi yang berbeda. Evaluasi program sosialisasi dilakukan dengan deskripsi dan pertimbangan dengan beberapa tahapan, yaitu anteseden (kondisi awal subjek), transaksi (program yang diberikan pada subjek) dan keluaran (kondisi subjek setelah mendapat program). Di sekolah khusus autisme pertama, program sosialisasi dibagi menjadi sosialisasi besar dan sosialisasi kecil. Program sosialisasi besar dilakukan dua kali dalam satu semester, yang diikuti oleh semua murid dan lokasinya cukup jauh dari sekolah, seperti mengunjungi tempat rekreasi, tempat belanja, dan sebagainya. Sedangkan program sosialisasi kecil dilakukan sebulan sekali dengan pembagian kelompok yang terdiri dari enam anak dalam dua hari. Bila tempat pelaksanaan program sosialisasi ialah sekolah, maka pembagian kelompok disesuaikan dengan usia dan kemampuan murid, TK atau SD. Selain itu, terdapat pelajaran berenang, olahraga, jalan-jalan di lingkungan sekolah yang termasuk dalam program sosialisasi karena memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi murid. Program sosialisasi besar dan kecil selalu terlaksana, meskipun terkadang selisih beberapa hari dari jadwal yang telah ditentukan, tidak sesuai dengan Kalender Pendidikan, dikarenakan alasan-alasan tertentu. Sedangkan untuk pelajaran berenang dan olahraga masing-masing dilakukan dua kali dalam sebulan bergantian setiap hari Jumat. Serta jalan-jalan di lingkungan sekolah dilakukan setiap hari Sabtu. Berikut ialah kondisi awal dan kondisi setelah mendapat pendidikan pada subjek pertama dan kedua yang bersekolah di sekolah khusus autisme pertama. Pada subjek pertama, kemampuan sosialnya menunjukkan bahwa ia belum mampu berinteraksi dengan teman, perilakunya hiperaktif dan sering tantrum, meski tidak langsung panik saat berada di lingkungan baru. Setelah mendapat pendidikan, ia tidak berperilaku hiperaktif dan tantrumnya berkurang. Kontak matanya juga telah konsisten serta memahami perkataan orang lain. Selanjutnya pada subjek kedua, keadaan awal menunjukkan bahwa secara sosial, ia mau bergaul dengan teman, meski tidak bermain dan kontak matanya belum konsisten. Kini ia mampu beradaptasi dengan kehadiran orang baru, ia juga mampu berjabat tangan dan berpamitan. Namun ia belum mampu berkonsentrasi penuh dan sering melihat ke arah temannya saat belajar di dalam kelas. Sedangkan di sekolah khusus autisme kedua, pelaksanaan program sosialisasi dengan lokasi cukup jauh dari sekolah dilakukan sekali dalam satu semester, seperti mengunjungi tempat-tempat umum. Selain itu, terdapat pelajaran olahraga dan jalan-jalan di lingkungan sekolah yang termasuk dalam program sosialisasi karena memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi murid. Program sosialisasi dengan lokasi cukup jauh dari sekolah dilaksanakan di akhir semester sesuai jadwal. Sedangkan untuk pelajaran olahraga, berenang dan jalan-jalan di lingkungan sekolah sebagian besar dilakukan atas kesepakatan antar guru, tidak sesuai dengan Kalender Pendidikan. Berikut ialah kondisi awal dan kondisi setelah mendapat pendidikan di sekolah khusus autisme kedua pada subjek ketiga dan keempat. Kondisi awal subjek ketiga menunjukkan bahwa ia berperilaku hiperaktif, tidak mau berinteraksi dengan teman dan orang lain. Kini perilaku hiperaktifnya telah berkurang, ia mampu bergaul dengan teman serta dapat diajak berkomunikasi. Sedangkan pada subjek keempat, kondisi awalnya menunjukkan bahwa ia belum dapat berinteraksi dengan teman dan orang lain serta tantrum. Kini ia belum stabil saat beradaptasi dengan orang lain, terutama terhadap kehadiran orang baru. Ia juga belum dapat berkonsentrasi penuh di kelas, masih sering melihat ke arah teman sekelasnya. Selain itu, ia juga masih tantrum meski sudah berkurang daripada kondisi sebelumnya. Maka dengan melakukan evaluasi program sosialisasi, melihat dampak pada keempat subjek, menunjukkan bahwa pelaksanaan program sosialisasi di sekolah khusus autisme pertama lebih efektif daripada di sekolah khusus autisme kedua. Sehingga rekomendasi yang dapat dilakukan ialah melanjutkan program sosialisasi di sekolah khusus autisme pertama karena pelaksanaan program sosialisasi dapat berjalan sesuai harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat serta menyebarluaskan program sosialisasi ke tempat pelayanan pendidikan autisme lain dengan melaksanakan atau mengulangi program sosialisasi tersebut. Sedangkan bagi sekolah khusus autisme kedua, perlu dilakukan revisi terhadap program sosialisasi agar pelaksanaannya dapat lebih baik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diketahui hasil evaluasi program sosialisasi bagi anak autisme. Pelaksanaan program sosialisasi yang berbeda pada tempat pelayanan pendidikan autisme yang berbeda akan mempengaruhi perkembangan kemampuan sosial anak. Lebih tinggi frekuensi dan bervariasi lokasi pelaksanaan program sosialisasi yang diterapkan oleh tempat pelayanan pendidikan anak autisme maka kemajuan perkembangan kemampuan sosial anak akan semakin baik karena anak dibiasakan untuk beradaptasi dengan lingkungan, terutama orang yang baru dilihatnya atau tempat yang baru dikunjunginya. Selain itu pendidikan di sekolah bukanlah yang utama, karena pendidikan keluarga sangat berpengaruh bagi perkembangan kemajuan anak autisme, dimana waktu yang diluangkan orang tua bersama anak lebih banyak daripada waktu saat di sekolah dengan guru.

Description

Citation

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By