<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Strategic Coping Tunarungu

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana strategic coping tunarungu menyikapi keterbatasannya dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Subjek dalam penelitian ini ialah individu yang mengalami ketunarunguan usia remaja. Pada penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan tiga orang subjek remaja tunarungu, satu orang guru sekolah luar biasa dan juga orang tua subjck sebagai informan. Wawancara dilakukan secara informal dan menggunakan petunjuk umum wawancara. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis tematik yaitu proses mengkode informasi, yang menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang terkait dengan tema itu, atau gabungan dari yang telah disebutkan. Hasil wawancara di lapangan menunjukkan bahwa individu yang mengalami gangguan pendengaran atau tunarungu mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi. Untuk mengatasi masalahnya itu, mereka melakukan strategic coping atau cara pengatasan masalah guna mempermudahnya dalam melakukan komunikasi. Pada subjek pertama yang mengalami ketunarunguan bukan sejak lahir, dia menganggap dirinya tidak berbeda dengan orang lain sehingga tidak timbul tekanan dalam dirinya. Sedangkan pada subjek kedua dan ketiga yang mengalami ketunarunguan bukan sejak lahir, mereka mengalami fase dimana terdapat gejolak dalam dirinya untuk menerima keadaan dirinya. Dari hasil wawancara yang telah didapat, tidak ada aspek psikologis yang dimunculkan subjek pada saat melakukan strategic coping dalam melakukan komunikasi dengan orang lain karena mereka menganggap bahwa dirinya sama dengan orang lain. Strategic coping yang seringkali dilakukan oleh ketiga subjek adalah tindakan instrumental, berupa menggunakan alat bantu dengar, menggunakan bahasa isyarat, serta menggunakan media tulisan. Jikalau tindakan instrumental yang telah disebutkan sebelumnya tidak berpengaruh dalam melakukan komunikasi, maka mereka meminta bantuan dari orang lain dan menjadikannya sebagai translator atau juru bicara. Pada subjek pertama, strategic coping yang dilakukan lebih mengarah pada problem-focused coping karena ia lebih sering melakukan tindakan-tindakan yang dilakukan secara langsung untuk membantunya dalam melakukan komunikasi. Subjek kedua melakukan strategic coping yang mengarah pada emotion-focused coping karena ia lebih sering bergaul dengan teman-temannya yang mengalami ketunaan yang membuatnya tidak merasa berbeda dengan orang lain. Selain itu ia kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya sehingga ia lebih sering mencurahkan perasaannya di buku hariannya. Sedangkan pada subjek ketiga, strategic coping yang dilakukan cenderung seimbang antara problem-focused coping dan emotion-focused coping karena ia mampu menempatkan dirinya secara sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.

Description

Citation

Collections

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By