<link rel="stylesheet" href="styles.f3b1fba60ec7970c.css">

Analisis Pencegahan Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja Menggunakan Metode Hazard Identification Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) (Studi Kasus : Depo Lokomotif Semarang Poncol PT. KAI (Persero) Daop 4 Semarang)

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Universitas Islam Indonesia

DOI

Abstract

DepoLokomotif Semarang Poncolmerupakan unit pelaksana teknis(UPT) untuk pemeliharaan dan perbaikan lokomotif di kota semarang yang berada di bawah organisasi seksi sarana PT. Kereta Api Indonesia (Persero) daerah operasi (DAOP) 4 Semarang. Berdasarkan data kecelakaan kerja proses perawatan diketahui bahwa adanya variasi jumlah kecelakaan kerja dari tahun 2022 hingga 2024. Beberapa jenis kecelakaan kerja di antaranya yaitu akibat terjatuh ditempat kerja yang paling sering terjadi hingga terdapat peningkatan dari 3 kejadian pada tahun 2022 menjadi 20 kejadian pada tahun 2024. Sementara itu kecelakaan kerja akibat terkena alat kerja juga menunjukkan peningkatan dari tahun 2022 hingga 2024. Sebaliknya pada beberapa jenis kecelakaan kerja seperti terjepit wesel/rel dan karena alat angkut mengalami penurunan. Sementara kecelakaan akibat kebakaran hanya terjadi satu kali pada tahun 2023. Penelitian ini berfokus pada identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko kecelakaan kerja pada kegiatan perawatan lokomotif. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data risiko kecelakaan kerja pada kegiatan proses perawatan melalui wawancara dan studi literatur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi risiko bahaya, menghitung dan menganalisi tingkat risiko, dan juga dapat memberikan rekomendasi pengendalian risiko pada perusahaan menggunakan metode hazard identification risk assessment and risk control (HIRARC) yang dibantu dengan pendekatan 5W+1H untuk penentuan pengendalian risiko akhir yang dapat diterapkan pada Depo Lokomotif Semarang Poncol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 aktivitas yang memiliki tingkat risiko ekstrem (extreme risk) sebesar 18%, 4 aktivitas yang memiliki tingkat risiko tinggi (high risk) sebesar 23%, 2 aktivitas yang memiliki tingkat risiko sedang (moderate risk) sebesar 12% dan 8 aktivitas yang memiliki tingkat risiko rendah (low risk) sebesar 47%. Maka Pengendalian perbaikan yang dapat dilakukan adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) berupa sarung tangan tahan oli dan sepatu anti slip. Kemudian pengendalian berupa engineering control adalah berupa pemberian sinyal peringatan penggerakan lokomotif dan pemberian alat tampung tumpahan oli. Selanjutnya untuk pengendalian administrative control adalah berupa program inspeksi rutin dan pelatihan prosedur darurat. Kemudian untuk pengendalian substitusi adalah berupa penggantian mengganti jenis baterai lama dengan jenis yang lebih aman.

Description

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By