Perbandingan Desain Tebal Perkerasan Lentur pada Ruas Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) dengan menggunakan Metode Aashto 1993 dan Bina Marga 2017
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang berperan penting dalam melayani
manusia untuk melakukan perjalanan. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak
tempat wisata, Gunung Kidul merupakan salah satu daerah yang dilewati proyek pembangunan Jalur
Jalan Lintas Selatan (JJLS). Dengan kondisi alam dengan topografi curam menjadikan akses menuju
tempat wisata saat ini masih cukup sulit dijangkau. Pembangunan ini memiliki fungsi untuk
memenuhi kapasitas jalan pada JJLS, pembangunan wilayah Gunung Kidul dibagi menjadi beberapa
segmen, salah satunya berada pada segmen Tepus-Jerukwudel dengan rute sepanjang 11 kilometer.
Ruas Jalan Tepus-Jerukwudel pada eksisting lama memiliki lebar 4,5 m untuk melayani 2 lajur.
Kondisi eksisting lama sudah terdapat beberapa kerusakan seperti retak pinggir hingga pelepasan
butir. Pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) Tepus-Jerukwudel yang akan ditinjau
sepanjang 3 km, yang terletak pada sta. 11+225 sampai dengan sta. 14+225.
Penelitian ini menganalisis Jalur jalan Lintas Selatan (JJLS) dengan umur rencana 20 tahun.
Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data sekunder, seperti dala lalu lintas, kondisi lokasi,
data hujan yang diperoleh dari instansi terkait. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
AASHTO 1993 dan Bina Marga 2017. Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) ini dibangun mulai dari
tahun 2020 hingga tahun 2022. Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) ini akan dibuka pada 26 Oktober
2022.
Hasil analisis tebal lapis perkerasan dengan metode AASHTO diperoleh tebal lapis
permukaan sebesar 14 cm, tebal lapis pondasi atas sebesar 10 cm, lapis pondasi bawah sebesar 12
cm. Untuk metode Bina Marga 2017 diperoleh tebal lapis permukaan dengan sebesar 20,5 cm, lapis
pondasi atas sebesar 30 cm. Nilai Sn Untuk metode AASHTO 1993 diperoleh 3,7 dan untuk Bina
Marga 2017 siperoleh 5,705. Perbedaan pada hasil untuk masing-masing metode disebabkan oleh
perbedaan parameter input seperti nilai VDF yang digunakan tiap metode, nilai ∆PSI, ZR, So, MR
dan m yang digunakan.