Evaluasi Kerusakan Bangunan Rumah Tinggal Sederhana Akibat Gempa Bumi Palu
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Di Indonesia bencana alam sangat rentan terjadi, termasuk gempa bumi,
karena letaknya yang berada di tiga lempeng tektonik utama yaitu Lempeng Indo- Australia yang umumnya memiliki pergerekan ke arah utara, Lempeng Eurasia
yang memili pergerakan ke arah selatan dan Lempeng Pasifik yang juga memiliki pergerakan ke arah selatan. Dari literatur Cipta Karya (Bakornas, 2006), pengklasifikasian kerusakan akbiat gempa di bagi menjadi tiga yaitu kerusakan berat, kerusakan sedang, dan kerusakan ringan. Di Provinsi Sulawesi Tengah, kerusakan bangunan tempat tinggal dibagi lagi menjadi lima tingkatan, yaitu kerusakan nonstruktural ringan, kerusakan struktural ringan, kerusakan struktur sedang, kerusakan struktur berat, dan rusak total (Departemen Pekerjaan Umum). Kerusakan yang terjadi akibat adanya gempa bumi di kota Palu dan sekitarnya dapat membantu untuk mengetahui tingkat kerusakan banguna yang terjadi atau suatu pola kerusakan banguna yang terjadi jika akan terjadi kempa bumi pada kemudian hari. Penelitian ini didasarkan pada pemikiran bahwa permasalahan yang akan diteliti adalah fenomena yang terjadi dalam kondisi dunia nyata. Temuan penelitian akan menyajikan fakta mengenai kriteria yang diterapkan di masing-masing daerah dan menilai kesiapsiagaan layanan atau lembaga yang bertanggung jawab jika terjadi bencana gempa bumi. Adapun pada tahapan penelitian ini peneliti mengunakan Aplikasi berbasisi Android yaitu InaRisk guna untuk menentukan tingkat kerentanan dengan menggunakan ACeBS. Metode yang digunakan adalah pendekatan evaluatif, yang melibatkan penilaian kerentanan bangunan tempat tinggal sederhana dan pengumpulan data untuk meningkatkan solusi. Dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan terdapat empat (4) kesimpulan dalam penelitian, antara lain adalah: bangunan yang berada di Kecamatan Palu Barat memilki kerentanan bangunan“Sangat Rentan” dengan jumlah persentase bangunan 100%. Peta risiko ancaman gempa bumi terdapat tiga (3) jenis risiko kerentanan pada Kecamatan Palu Barat yaitu kerentanan tingkat “Rendah” dengan zona berwarna “Hijau” memiliki persentase 0%, kerentanan tingkat “Sedang” dengan Zona berwarna “Orens” memiliki presentase 0%, dan kerentanan tingkat “Tinggi” dengan Zona berwarna “Merah” memiliki persentase 100%;, bangunan yang berada di Kecamatan Palu Selatan memilki kerentanan bangunan “Sangat Rentan” berjumlah dua (2) bangunan, kerentanan bangunan “Tidak Rentan” berjumlah empat (4) bangunan dan tingkat kerentanan “Rentan” berjumlah nol (0) bangunan. Peta risiko kerentanan akibat gempa bumi terdapat tiga jenis risiko kerentanan pada Kecamatan Palu Selatan yaitu kerentana tingkat “Rendah” dengan zona berwarna “Hijau” memiliki persentase 33%, kerentanan tingkat “Sedang” dengan Zona berwarna “Orens” memiliki presentase 0%, dan kerentanan tingkat “Tinggi” dengan Zona berwarna “Merah” memiliki persentase 67%; bangunan yang berada di Kecamatan Mantikolore dan Kecamatan Palu Timur memilki kerentanan bangunan “Sangat Rentan” berjumlah sembilan (9) bangunan, kerentanan bangunan “Tidak Rentan” berjumlah sepuluh (0) bangunan dan tingkat kerentanan “Rentan” berjumlah empat (0) bangunan. Peta risiko ancaman kerentanan bangunan akibat gempa bumi terdapat tiga (3) jenis risiko pada Kecamatan Mantikolore yaitu kerentanan tingkat “Rendah” dengan zona berwarna“Hijau” memiliki persentase 47%, kerentanan tingkat “Sedang” dengan Zona berwarna “Orens” memiliki presentase 16%, dan kerentanan tingkat “Tinggi” dengan Zona berwarna “Merah” memiliki persentase 37%; dan sesuai hasil penelitian pengamatan dilapangan dengan menggunakan ACeBS peneliti memperoleh Rekomendasi Mitigasi untuk mendirikan bangunan agar tahan terhadap gempa berupa pemilihan material yang tepat, perencanaan desain bangunan yang baik, pemasangan struktur penyangga, perawatan dan pemeliharaan rutin terhadap bangunan, kesiapsiagaan dan juga pelatihan pada masyarakat.