Evaluasi Kinerja Lalu Lintas Akibat Rencana Pembangunan Flyover Proliman Kabupaten Bojonegoro
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Simpang Proliman Kabupaten Bojonegoro merupakan simpang empat yang
menghubungkan ruas Jalan Babat–Batas Kota Bojonegoro, Jalan Raya Kedaton, dan Jalan Raya
Plesungan. Berdasarkan kondisi eksisting, simpang ini terletak di kawasan komersial dengan tingkat
aktivitas yang tinggi dan sering mengalami kemacetan, khususnya pada Lengan Selatan yang
berdekatan dengan perlintasan kereta api jalur ganda Semarang–Surabaya. Pembangunan flyover
Proliman direncanakan untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan keselamatan lalu lintas di
kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan menganalisis kinerja simpang pada
kondisi eksisting dan kondisi operasional pembangunan flyover
Lokasi Studi berada di sekitar Simpang Proliman, Desa Kapas, Kecamatan Kapas,
Kabupaten Bojonegoro dengan meninjau sebanyak tujuh simpang. Pada penelitian ini digunakan
data sekunder berupa data geometri simpang, volume lalu lintas ruas jalan dan simpang, data jumlah
penduduk, dan data jumlah kendaraan Kota Bojonego dengan analisis menggunakan metode
Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023 dan kinerja lalu lintas dievaluasi dengan mengacu
pada PM No. 96 Tahun 2015, baik pada kondisi eksisting dan operasional.
Kinerja simpang pada kondisi eksisting menunjukkan bahwa STB 1, yang menjadi lokasi
pembangunan flyover, berada pada tingkat pelayanan D dengan tundaan yang relatif tinggi.
Sementara itu, beberapa simpang lain seperti STB 3, STB 4, STB 6, dan STB 7 masing-masing
berada pada tingkat pelayanan B dengan nilai tundaan berada dikisaran 6 - 11 det/smp. Adapun STB
5 menunjukkan status tingkat pelayanan C dengan nilai tundaan relatif tinggi. Pada penelitian ini,
dibuat dua rute alternatif pengalihan arus lalu lintas setelah pembangunan flyover. Perbedaan kedua
rute alternatif tersebut terletak pada arus perjalanan dari selatan menuju timur dan barat yang mana
pada rute alternatif 1 perjalanan dari selatan menuju timur dan barat perlu melalui Jl. Pande Besi
sedangkan pada alternatif 2 perjalanan dari selatan menuju timur dan barat dilakukan melalui flyover
dan melakukan u-turn. Selanjutnya, rute alternatif 2 dipilih sebagai solusi terbaik karena
memberikan distribusi arus yang lebih merata, mengurangi potensi konflik pada simpang sekitar,
serta tetap memberikan peningkatan kinerja signifikan pada simpang utama STB 1 dengan
peningkatan tingkat pelayaan menjadi B dan penurunan nilai tundaan dari 27,21 det/smp menjadi
14,21 det/smp, beberapa simpang seperti STB 3, STB 4, STB 6, dan STB 7 mengalami peningkatan
tundaan akan tetapi tingkat pelayanannya tetap pada kategori B. Adapun STB 5 mengalami
peningkatan tundaan disertai penurunan tingkat pelayanan menjadi C karena bertambahnya volume
lalu lintas.