Pusat Kebudayaan Betawi di Jakarta Sebuah Pendekatan Aspek Estetika Instrumental Melalui KarakterTeater Lenong Betawi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Kebudayaan sebagai kata benda berarti hasil dari pemikiran akal budi manusia, arti lain
sebagai kata kerja yang berarti sebuah proses pembelajaran. Arti yang terakhir memiliki muatan
bahwa kebudayaan bukan hanya 'sebuah benda' yang memperkaya adat istiadat dari wilayah
tertentu, tetapi jauh cenderung lebih ke masa yang akan datang, yaitu bagaimana manusia
sebagai subyek dari kebudayaan mampu menghadapi masa depan dengan memiliki pedoman
nilai-nilai kebudayaan yang mereka miliki.
Subyek kebudayaan Betawi dalam usahanya menjadikan kebudayaannya sebagai proses
pembelajaran, makin tergusur atau kalah dengan kemajuan jaman tersebut. Mereka terpaksa
menyingkir akibat ketidakmampuan mengcounter-attack kebudayaan-kebudayaan asing yang
muncul menerjang. Kesadaran untuk melestarikan dan menyampaikan nilai-nilai kebudayaan
yang luhur tersebut sangatlah kurang, dikarenakan tidak adanya wadah khusus untuk
manampung kegiatan kebudayaan Betawi. Dengan hadirnya Pusat Kebudayaan Betawi yang
berlokasi di wilayah cagar budaya Betawi ini, diharapkan menjadi wahana pengembangan dan
pelestarian kreatifitas kesenian, sebagai kontrol sosial, pusat informasi dan dokumentasi serta
menjalin pemikiran-pemikiran kritis.
Bahasa arsitektural yang digunakan merupakan penerapan dari aspek-aspek estetika
instrumental yaitu bentuk, struktur, suasana dan gagasan. Kemudian aspek-aspek tersebut
ditransformasikan ke dalam desain berdasarkan karakter-karakter yang ada pada seni teater
rakyat lenong Betawi seperti alur cerita, penokohan, tendensi komikal, eksposisi atau
pemaparan dan improvisasi. Rancangan yang dihasilkan yaitu suatu rancangan komposisi
massa yang terbentuk melalui transformasi karakter lenong Betawi ke dalam aspek estetika
instrumental yang di acak menjadi pola dan bentuk baru, kemudian dikombinasikan menjadi
sebuah bentuk dua dan tiga dimensi. Melalui penumpangtindihan, pergeseran dan rotasi akan
menjadi gubahan dan penampilan massa bangunan. Metode tersebut juga diterapkan dalam
perancangan lansekap.