Penerapan Metode Hiradc pada Pekerjaan Pemasangan Struktur Atap Proyek Gedung 9 Lantai Universitas Alma Ata
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Pemasangan atap pada bangunan bertingkat merupakan satu jenis pekerjaan yang memiliki
risiko bahaya. Berdasarkan faktor pengalaman pekerja, situasi lapangan, dan jenis peralatan yang
kurang memadai tentunya dapat memunculkan bahaya bagi pekerja yang melakukannya. Salah satu
bentuk upaya dalam mengurangi dan bahkan meniadakan bahaya agar terhindar dari kecelakaan
kerja ini adalah dengan mengimplementasikan Sistem Manajemen Keselamatan Kerja (SMK3) yang
menjadi acuan dasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan, kesehatan dan juga kesejahteraan
pekerja yang dilingkupinya. Dalam penerapannya, maka digunakanlah metode Hazard
Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) agar SMK3 dapat terjalankan
dengan optimal. Metode HIRADC ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya, menilai suatu risiko
bahaya, dan mengendalikan risiko bahaya yang akhirnya dapat dikatakan aman (Acceptable Risk)
atau tidak.
Proses identifikasi bahaya dilaksanakan dengan pengamatan secara langsung di lapangan
selama pemasangan atap berlangsung. Yaitu, pada proyek pembangunan gedung kuliah 9 lantai
Universitas Alma Ata, dengan cara mewawancarai narasumber ahli yang berkaitan dengan
HIRADC, kemudian mengidentifikasi potensi bahaya, lalu menilai risiko bahaya, dan setelah itu
menentukan pengendalian agar dapat meminimalisir atau meniadakan risiko dari bahaya tersebut.
Dari hasil penelitian didapatkan sejumlah 34 bahaya, dengan tingkat risiko Sedang (S) ada
21 bahaya (61,75%), tingkat risiko Ringan (R) ada 13 bahaya (38,24%), dan tidak ditemukan adanya
bahaya Berat (B). Setelah dilakukan pengendalian semua tingkat risiko menjadi Ringan (R)
sebanyak 34 bahaya (100%). Kemudian pada upaya selanjutnya sangat memungkinan untuk bisa
menghapus risiko bahaya menjadi sangat kecil atau mendekati 0% dengan memanfaatkan hierarki
pengendalian risiko dengan tepat. Pada contoh lain yaitu melakukan pengawasan rutin, memastikan
pekerja dalam kondisi prima dan berpengalaman dalam pekerjaan pemasangan struktur atap baja
WF (Wide Flange), dan baja ringan, memakaian Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap dan
memastikan alat kerja beserta perangkat yang digunakan berfungsi dengan baik.