Analisis Kekuatan Beton Normal Dengan Fly Ash dari Pltu Sumsel – 8 Sebagai Pengganti Parsial Terhadap Semen
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Universitas Islam Indonesia
DOI
Abstract
Beton dengan penambahan fly ash dari PLTU Sumsel–8 digunakan sebagai bahan pengganti parsial
semen untuk menganalisis pengaruhnya terhadap kuat tekan, kuat tarik belah, dan modulus elastisitas beton
normal. Pemanfaatan fly ash dari PLTU Sumsel – 8 dilakukan sebagai upaya mengurangi limbah industri semen
dan batubara, khususnya pada daerah Muara Enim, Sumatera Selatan limbah fly ash menimbulkan berbagai
masalah pada lingkungan sekitar. Fly ash yang digunakan tergolong tipe F berdasarkan ASTM C-618 dengan
kandungan SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 sebesar 82,37% dan kadar CaO sebesar 8,71%.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik, Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan, Universitas Islam Indonesia. Campuran beton dirancang menggunakan metode mix design SNI
03-2834-2000 dengan kuat tekan rencana sebesar 25 MPa. Variasi kadar fly ash yang digunakan yaitu 0%, 5%,
10%, 15%, dan 20% dari berat semen. Setiap variasi diuji terhadap lima sampel untuk kuat tekan dan modulus
elastisitas, serta tiga sampel untuk kuat tarik belah pada umur 28 hari.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh variasi campuran beton menghasilkan kuat tekan di atas
mutu rencana 25 MPa. Nilai kuat tekan meningkat 21,33 % dimana tertinggi diperoleh pada variasi BV-20
sebesar 48,595 MPa, sedangkan terendah pada beton normal (BN) sebesar 40,051 MPa. Nilai modulus
elastisitas meningkat 20,39% dimana tertinggi terjadi pada variasi BV-20 sebesar 31936,656 MPa dan terendah
pada BN sebesar 26529,957 MPa. Sementara itu, kuat tarik belah meningkat 30,67% dimana tertinggi terdapat
pada variasi BV-05 sebesar 3,598 MPa dan terendah pada BN sebesar 2,494 MPa. Peningkatan kadar fly ash
hingga 20% memperbaiki kekuatan tekan dan hingga 15% meningkatkan modulus elastisitas akibat efek
pengisian (filler effect) dan reaksi pozzolanik, sedangkan kadar optimum untuk kuat tarik belah terjadi pada
5%.