Penyusunan Peta Kerentanan Gempa Di Berbah Kabupaten Sleman Menggunakan Metode Horizontal To Vertical Spectral Ratio (Hvsr) Berdasarkan Pengukuran Mikrotremor Di Lapangan
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Salah satu bencana gempa besar yang mengguncang kawasan Indonesia adalah gempa
Jogja 2006, dan salah satu Kapanewon dengan kerusakan paling berat adalah Kapanewon Berbah.
Kerusakan ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kondisi geologi dan dikarenakan
Kapanewon Berbah dilewati oleh sesar opak. Bencana gempa bumi sendiri merupakan bencana yang
masih belum dapat diperkirakan kapan terjadinya, salah satu cara untuk meminimalisir dampak
adalah dengan melakukan mitigasi bencana berupa penelitian guna mendapatkan peta kerentanan
bencana yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mitigasi. Penyusunan peta tersebut
menggunakan data parameter gempa seperti Ag, Fg, Tg, Kg, dan PGA.
Penelitian ini dilakukan di 36 titik yang tersebar wilayah Kapanewon Berbah dengan
bantuan alat lunitek digital seismic sensors. Setelah dilakukan pengambilan data di lapangan langkah
selanjutnya adalah pengolahan data untuk mendapatkan parameter – parameter gempa yang
dinginkan. Analisis yang digunakan dalam perhitungan parameter – parameter tersebut adalah
menggunakan metode empiris Kanai dan menggunakan referensi gempa Yogyakarta pada tahun
2006.
Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah nilai Ag berkisar antara 1,621 – 15,810, nilai
Fg berkisar antara 0,443 – 3,523, nilai Tg berkisar antara 0,284 – 2,259, nilai Kg berkisar antara
1,860 – 564,634, dan nilai PGA (gal) berkisar antara 290,049 – 830,451. Dari nilai – nilai tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa wilayah yang rentan dengan bencana gempa bumi berdasarkan
kemampuan batuan untuk melewatkan seismik terletak di wilayah Tegaltirto. Wilayah dengan nilai
kerentanan tinggi biasanya mempunyai kondisi tanah yang lunak, tetapi berdasarkan dengan
percepatan gerakan tanah, nilai kerentanan paling tinggi terletak di Kelurahan Jogotirto, hal tersebut
dikarenakan kedua paremeter tersebut mempunyai niali berbanding terbalik.